Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Gelar Piala Dunia tak Dongkrak Popularitas Presiden Macron

Rabu 18 Jul 2018 04:50 WIB

Red: Israr Itah

Kylian Mbappe berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kedua dari kanan) sebelum menerima penghargaan sebagai pemain muda terbaik pada Piala Dunia 2018 dari Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan).

Kylian Mbappe berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kedua dari kanan) sebelum menerima penghargaan sebagai pemain muda terbaik pada Piala Dunia 2018 dari Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan).

Foto: EPA-EFE/FACUNDO ARRIZABALAGA
Survei digelar pada 16 Juli, sehari setelah Prancis menang 4-2 atas Kroasia.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Menjuarai Piala Dunia 2018 telah mengubah Prancis yang telah lama pesimistis menjadi optimistis. Namun, itu tidak mendongkrak popularitas Presiden Emmanuel Macron, menurut suatu survei pada Selasa (17/7).

Sebanyak 62 persen orang Prancis yang diambil suaranya oleh Institut Polling Odoxa kini optimistis mengenai masa depan. Survei digelar pada 16 Juli, sehari setelah Prancis menang 4-2 atas Kroasia di Moskow.

Pada Maret 2016, saat terakhir kali Odoxa menanyakan pertanyaan serupa, 53 persen di antara mereka pesimistis.

Sebanyak 82 persen warga Prancis beranggapan bahwa kesuksesan Les Bleus akan mendongkrak harga diri nasional, 74 persen di antara mereka berpikir bahwa hal itu akan mendongkrak citra Prancis di luar negeri, dan 39 persen dari mereka mengatakan hal itu akan memberi dampak positif terhadap moral mereka sendiri, kata Odoxa.

Bagaimanapun, keberhasilan Prancis menjuarai Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah kesuksesan 1998 di kandang sendiri tidak mendongkrak popularitas Macron. Meskipun foto pria 40 tahun itu sedang mengangkat tangannya untuk merayakan penampilan timnya menjadi viral di media sosial.

Hanya 39 persen suara dari jajak pendapat Odoxa yang mengatakan Macron adalah presiden yang bagus, penurunan 2 persen poin sejak jajak pendapat terakhir Odoxa pada 26 Juni.

"Kemenangan 2018 tidak akan memiliki dampak yang sama terhadap popularitas Emmanuel Macron, sebagaimana (kesuksesan) 1998 terhadap Jacques Chirac," kata presiden Odoxa Gael Sliman dalam catatannya.

"Ia mungkin dianggap memiliki watak yang menyenangkan dalam suasana kegembiraan terkait kemenangan, namun hal itu jelas tidak mengubah ekspektasi apapun terhadap dirinya di front ekonomi dan sosial."

Meski demikian, kemenangan ini merupakan kabar baik bagi presiden Prancis. Sliman mengatakan, ini mendongkrak moral menjelang pendekatan-pendekatan pengetatan ikat pinggang terhadap biaya bujet September.

"Ini merupakan situasi ideal untuk presiden, yang akan mengungkap reformasi-reformasi yang tidak akan membuatnya menjadi populer," tutur Sliman. 

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA