Kamis 09 Aug 2018 21:30 WIB

Rouhani ke Korut: AS adalah Negara tak Bisa Dipercaya

Iran menolak tawaran perundingan Washington.

Presiden Iran Hassan Rouhani
Foto: AP
Presiden Iran Hassan Rouhani

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan kepada Korea Utara, Amerika Serikat adalah negara yang tidak bisa dipercaya. Demikian laporan kantor berita setempat, Kamis (9/8).

Amerika Serikat saat ini tengah mengupayakan kesepakatan nuklir dan rudal dengan Korea Utara. Mereka juga sedang menekan Iran untuk mengikuti langkah Pyongyang maju ke meja runding.

Iran sendiri menolak tawaran perundingan dari Washington pada pekan ini, karena sudah tidak percaya lagi pada Presiden Donald Trump yang secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir internasional 2015.

Diplomat utama Korea Utara, Ri Yong-ho tengah mengunjungi Tehran bersamaan dengan pemberlakuan kembali sanksi Amerika Serikat untuk Iran.

"Prestasi pemerintahan Amerika Serikat dalam beberapa tahun belakangan membuat mereka menjadi negara yang tidak bisa lagi dipercaya dan tidak dapat diandalkan karena tidak mampu memenuhi kewajiban mereka," kata Rouhani kepada Ri, sebagaimana dikutip kantor berita IRNA, Rabu.

Baca juga, Trump: Jika Terus Mengancam Iran akan Menderita.

Dalam situasi sekarang, negara-semua negara harus membangun hubungan dan kerja sama yang baik dengan komunitas internasional. Rouhani menambahkan bahwa Iran dan Korea Utara hampir selalu satu sikap dalam banyak hal.

Ri berkunjung ke Teheran setelah menghadiri sebuah forum keamanan di Singapura. Di Singapura, Ri bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo untuk melanjutkan perundingan yang telah dimulai oleh pemimpin kedua negara, Kim Jong-un dan Donald Trump, pada Juni lalu.

Trump dan Kim sudah sepakat untuk mengupayakan penghapusan nuklir di Semenanjung Korea. Namun sejak saat itu, kedua belah pihak kesulitan untuk mencapai perjanjian konkrit.

Kepada Rouhani, Ri mengatakan, penarikan diri sepihak Washington pada perjanjian nuklir 2015 dan pemberlakuan kembali sanksi adalah sebuah tindakan yang melanggar aturan dan hukum internasional.

"Strategi kebijakan Korea Utara selama ini adalah memperkuat hubungan dengan Republik Islam Iran dan menolak unilateralisme," kata dia.

Trump memutuskan untuk memulihkan sanksi terhadap Iran meski negara-negara lain yang turut menandatangani perjanjian 2015 -- termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina -- mendesak Washington untuk membatalkan rencana itu.

Sanksi baru dari Amerika Serikat membuat banyak bank dan perusahaan dari berbagai belahan dunia menarik diri dari Iran. Perusahaan yang punya hubungan usaha dengan Iran akan dilarang beroperasi di Amerika Serikat, kata Trump pada Selasa.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement