Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

AS-Israel Bahas Ancaman Nuklir Iran

Senin 20 Aug 2018 12:03 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolanda

Netanyahu

Netanyahu

Foto: telegraph.co.uk
AS, Israel, dan Rusia berbagi tujuan menyingkirkan Iran dan pasukannya dari Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS) John Bolton bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di kediamannya di Yerusalem, Ahad (19/8). Dalam pertemuan itu, keduanya fokus mendiskusikan tentang Iran dan ancaman nuklirnya. 

Bolton mengatakan, Iran merupakan tantangan keamanan yang tak hanya harus dihadapi Israel dan AS, tapi juga seluruh dunia. "Program senjata nuklir dan program rudal balistik Iran tepat di bagian atas daftar," katanya. 

Sementara Netanyahu mengatakan dia dan Bolton akan fokus mendiskusikan tentang bagaimana mengonter agresi Iran di kawasan. "Dan memastikan mereka tidak pernah memiliki senjata nuklir," ujarnya. 

Netanyahu dan Bolton sepakat untuk melanjutkan diskusinya pada Senin (20/8). Bolton sedang melakukan tur ke beberapa negara membawa isu keamanan yang menjadi fokus AS.

Baca juga, Uni Eropa Janji Bantu Iran Terkait sanksi iran

Akhir pekan ini, dia akan bertemu dengan para pejabat Rusia di Jenewa, Swiss. Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia, bulan lalu. 

Dalam sebuah wawancara dengan ABC News, Bolton mengatakan bahwa AS, Israel, dan Rusia berbagi tujuan untuk menyingkirkan Iran dan pasukannya dari Suriah. Ketiga negara, kata Bolton, juga hendak memutus dukungan Iran terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. 

AS diketahui telah menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran pada 6 Agustus. Sanksi itu menargetkan perdagangan logam mulia, industri otomotif, serta sektor keuangan Iran. Sanksi diterapkan setelah Iran menolak keinginan AS untuk merevisi kesepakatan nuklir yang tercapai pada Oktober 2015, yang dikenal dengan istilah Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). 

Trump menilai JCPOA cacat karena tak mengatur tentang program balistik Iran, kegiatan nuklirnya selepas 2025, dan perannya dalam konflik Yaman serta Suriah. Trump menginginkan JCPOA dinegosiasi ulang, namun Iran dengan tegas menolak. Guna menekan Iran, AS kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA