Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Korea Selatan Larang Penjualan Kopi di Sekolah

Kamis 30 Aug 2018 13:09 WIB

Rep: Marniati/ Red: Nur Aini

Kopi. Ilustrasi

Kopi. Ilustrasi

Foto: Dailymail
Larangan penjualan kopi di Korsel sebagai promosi hidup sehat.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Selatan (Korsel) akan melarang penjualan kopi di sekolah-sekolah. Hal itu sebagai upaya untuk mempromosikan hidup sehat di kalangan murid dan guru.

Dilansir The Guardian, Kamis (30/8), Kementerian Keamanan Pangan dan Obat-obatan mengatakan semua mesin penjual otomatis dan kios makanan ringan di sekolah dasar dan menengah akan menghentikan penjualan semua produk kopi pada 14 September.

"Revisi ini bertujuan untuk menciptakan kebiasaan makan yang sehat di kalangan anak-anak dan remaja. Kami akan memastikan larangan kopi di sekolah terlaksana dengan baik," kata seorang pejabat kementerian.

Larangan kopi di sekolah adalah bagian dari kampanye yang lebih luas oleh pejabat untuk mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi kalori atau kafein. Hal itu mengikuti laporan media yang menyebutkan beberapa siswa merasakan peningkatan detak jantung setelah minum kopi. Pihak berwenang menyebut pusing, gangguan tidur, dan kegugupan sebagai gejala lainnya.

Banyak siswa mengkonsumsi kopi atau minuman energi agar tetap terjaga dalam proses belajar. Mereka ingin unggul dalam sistem pendidikan Korsel yang sangat kompetitif.

Menurut perusahaan riset pasar Euromonitor, orang Korsel minum rata-rata 181 cangkir kopi per tahun, paling banyak di Asia. Paket-paket kopi susu instan yang mengandung gula menjadi populer pada 1950-an, bertepatan dengan kedatangan ribuan pasukan AS. Dalam beberapa tahun terakhir kafe-kafe telah dibuka hampir di setiap jalan. Seoul, ibu kota dan kota terbesar, memiliki lebih dari 18 ribu kedai kopi pada akhir 2016.

Larangan kopi di sekolah-sekolah mengikuti pembatasan pada minuman energi awal tahun ini. Hal itu juga muncul setelah larangan iklan TV untuk makanan cepat saji, makanan ringan bergula, dan minuman berkafein tinggi yang disiarkan pada saat program anak-anak.

Otoritas Korsel mencoba untuk mengatasi meningkatnya obesitas pada siswa. Menurut angka pemerintah, sekitar 17 persen siswa sekolah dasar dan menengah mengalami obesitas pada 2016. Angka itu naik dari sekitar 12 persen satu dekade sebelumnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA