Jumat 31 Aug 2018 11:01 WIB

Dokter Nasser, Ahli Bedah yang Ditusuk Saat Mau Shalat Ashar

Pelaku penusukan bersalah dan divonis lima tahun, empat bulan penjara.

Rep: Marniati/ Red: Teguh Firmansyah
Police Line (ilustrasi)
Foto: www.nbcmiami.com
Police Line (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pelaku penyerangan terhadap seorang ahli bedah Muslim telah dijatuhi hukuman. Ian Rooke menikam Nasser Kurdy saat dia berjalan menuju Altrincham Islamic Center untuk melakukan shalat Ashar. Nasser merupakan ahli bedah yang merawat korban serangan teror Manchester.

Seperti dilansir The Independent, Jumat (31/8), pelaku berusia 29 tahun dan tidak memiliki alamat tetap. Pengadilan Manchester memutuskan Rooke dihukum selama lima tahun, empat bulan penjara. Rooke mengaku bersalah karena dengan sengaja melukai korban dan juga atas kepemilikan senjata.

Polisi awalnya menganggap penusukan itu sebagai kejahatan rasial. Tetapi penyelidikan  menemukan bahwa ada unsur kebencian terhadap serangan itu.

Polisi mengatakan sebelum penyerangan Rooke baru saja berkelahi. Ia mencari seseorang untuk melampiaskan amarahnya.

Detektif  Chris Potter mengatakan, Rooke berlari ke belakang Dokter Nasser dan menikamnya di leher dengan pisau dapur. "Ini adalah keajaiban bahwa luka-luka Dokter Nasser tidak  serius, dia bisa bertahan dengan cedera yang bahkan bisa menghilangkan nyawanya," tambahnya.

Baca juga, Komentar Islamofobia Mantan Menlu Inggris Dihujani Kritik.

Serangan itu menimbulkan ketakutan bagi  komunitas Muslim di wilayah tersebut.  Banyak dari mereka mempertanyakan motif Rooke. "Serangan terhadap Dokter Nasser sangat mengerikan dan sama sekali tidak beralasan, tidak ada unsur kebencian terhadap serangan. Rooke melampiaskan kemarahannya pada orang yang menarik perhatiannya, sayangnya itu adalah  Dokter Nasser," kata polisi.

Nasser merupakan ahli bedah, yang berasal dari Suriah-Yordania. Ia mengatakan komunitas Muslim setempat telah prihatin dengan peningkatan aktivitas sayap kanan di daerah itu. Khususnya di tengah lonjakan  kejahatan kebencian menyusul serangan teror yang terinspirasi ISIS.

"Ketika saya memasuki pekarangan, saya merasakan sakit dan pukulan di leher saya, ”kata korban berusia 58 tahun itu. 

Ayah-dari-tiga ini langsung melarikan diri ke dalam masjid. Nasser yang  merupakan konsultan ahli bedah ortopedi di Rumah Sakit Wythenshawe ini mengalami cedera yang tidak terlalu serius. Ia keluar dari rumah sakit pada hari yang sama. Ia kembali merawat pasiennya di Rumah Sakit Wythenshawe dalam dua hari.

Tersangka sempat kabur, tetapi ditangkap tidak lama kemudian di rumah saudara laki-lakinya. Dia awalnya dibebaskan dari percobaan pembunuhan sebelum mengakui kesalahannya.

Menurut pengadilan  Rooke menderita gangguan kepribadian. Ia baru saja minum alkohol dan tidak meminum obatnya  dua hari sebelum penyerangan.

Korban mengaku sempat trauma karena insiden itu. "Namun penusukan itu memiliki dampak positif yang luar biasa pada saya. Saya adalah orang yang jauh lebih baik karena telah melalui cobaan ini," katanya.

Dokter Nasser juga mengaku merasakan kasihan kepada pelaku. Ia berharap proses hukum dapat membuat pelaku menjadi lebih baik. Ia juga ingin menjadi bagian dari proses rehabilitasi pelaku.

Kepolisian memuji keberanian dan kekuatan Nasser. "Dia telah menunjukkan empati yang luar biasa terhadap Rooke yang mungkin banyak orang pikir tidak layak, dan saya angkat topi kepadanya. Dia adalah pilar komunitas dan telah memainkan peran besar untuk meyakinkan mereka yang ketakutan," kata Detektif Potter.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement