Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Erdogan Minta Jerman Masukkan Kelompok Gulen sebagai Teroris

Kamis 27 Sep 2018 07:40 WIB

Rep: Marniati/ Red: Ani Nursalikah

Pendukung Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melambaikan bendera nasional dan bendera

Pendukung Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melambaikan bendera nasional dan bendera "Ya" jelang referendum di Istanbul, Turki, 15 April 2017.

Foto: REUTERS/Alkis Konstantinidis
Jerman sebelumnya menolak permintaan ini.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Presiden Turki Tayyip Erdogan melakukan kunjungan ke Jerman. Dalam kunjungan itu, Erdogan mendesak Jerman menunjuk kelompok Fethullah Gulen sebagai teroris. Turki menuduh Gulen terlibat dalam upaya kudeta 2016.

Jerman sebelumnya menolak permintaan ini. Jerman mengatakan perlu lebih banyak bukti untuk menghubungkan jaringan Gulen terlibat dalam upaya menggulingkan pemerintah Turki.

"Harapan utama kami dari republik federal (Jerman) adalah mengakui FETO (Organsisai Gulen) sebagai bertanggung jawab atas upaya pembunuhan, seperti yang dilakukan Inggris," tulis Erdogan, Rabu di situs koran Frankfurter Allgemeine Zeitung.

Hubungan Ankara dan Berlin bersitegang akibat tindakan keras Turki setelah kudeta. Turki menahan puluhan warga Jerman.

"Kami berusaha meningkatkan perdagangan dan hubungan ekonomi kami. Demi kemakmuran dan masa depan kedua negara kita, marilah kita meningkatkan kepentingan bersama dan mengurangi masalah kita," kata Erdogan.

Jerman adalah rumah bagi tiga juta orang dari latar belakang etnis Turki. Ankara marah kepada Berlin karena memberikan suaka kepada orang yang diduga komplotan kudeta. Sementara itu, otoritas Jerman resah atas pengaruh Erdogan terhadap warga keturunan Turki di Jerman.

Para pejabat telah memperingatkan Erdogan agar tidak berkampanye terang-terangan saat  membuka sebuah masjid  di Cologne. Wilayah ini merupakan rumah bagi salah satu komunitas Turki terbesar di Jerman.

Jerman dan Uni Eropa mengandalkan Turki untuk membendung aliran pengungsi perang Suriah agar peristiwa 2015 tidak terulang kembali. Saat itu satu juta migran tiba di Jerman.

"Ia membutuhkan uang, dan ia berharap mendapatkannya dari Jerman," kata mantan pemimpin partai Green Cem Ozdemir.

Ozdemir merupakan seorang kritikus Erdogan dan politikus paling terkenal di Jerman yang berdarah Turki. Ia sering diberitakan negatif di media pro-pemerintah Turki.

"Kami harus menggunakan itu untuk berbicara kepada banyak orang yang membusuk di penjara Turki hanya karena tidak setuju dengan Erdogan," tambahnya dalam wawancara dengan penyiar umum SWR.

Erdogan merencanakan pertemuan dengan Merkel dalam kunjungan selama tiga hari itu. Tetapi, pejabat kedua negara mengatakan bantuan keuangan untuk ekonomi negara yang dilanda krisis itu tidak ada dalam agenda. Berlin memasukkan hak asasi manusia menjadi agenda tertinggi dalam kunjungan Erdogan.

Banyak politikus senior, termasuk Merkel, berada  jauh dari wilayah pertemuan. Presiden Frank-Walter Steinmeier telah memberikan penghormatannya pada Jumat. Tapi Ozdemir akan ada di sana. Ia berharap dapat menyampaikan keluhannya kepada Erdogan.

"Erdogan harus menghadapi kenyataan oposisi adalah bagian dari politik di Jerman, dan tidak dijebloskan ke penjara atau dibungkam seperti di Turki," katanya dalam wawancara kepada Die Welt.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA