Selasa 09 Oct 2018 05:00 WIB

Gaza Luncurkan Ambulans Laut Pertama

Sejak demonstrasi pada 30 Maret lalu lebih dari 190 orang Palestina wafat.

Rep: Marniati/ Red: Ani Nursalikah
Warga Palestina mengumpulkan ban bekas pada peringatan 70 tahun hari Nakba (hari di mana warga Palestina diusir secara besar-besaran oleh Israel) di perbatasan Gaza, selatan jalur Gaza, Selasa (15/5)
Foto: Ibraheem Abu Mustafa/Reuters
Warga Palestina mengumpulkan ban bekas pada peringatan 70 tahun hari Nakba (hari di mana warga Palestina diusir secara besar-besaran oleh Israel) di perbatasan Gaza, selatan jalur Gaza, Selasa (15/5)

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza akan meluncurkan ambulans laut pertama. Ambulans itu akan memberikan bantuan medis darurat kepada para demonstran selama demonstrasi antipendudukan di wilayah yang diblokade tersebut.

"Langkah itu menunjukkan dedikasi personel medis dan kemampuan mereka untuk mengambil semua langkah dalam mengamankan kehidupan warga sipil," ujar juru bicara kementerian Ashraf Al-Qudra seperti dilansir di Middle East Monitor, Senin (8/10).

Warga Palestina telah melakukan aksi unjuk rasa dan protes angkatan laut terhadap blokade 11 tahun Israel di Jalur Gaza. Sejak demonstrasi dimulai pada 30 Maret lalu, lebih dari 190 orang Palestina yang tak bersenjata telah wafat dan ribuan lainnya terluka oleh pasukan Israel yang ditempatkan di sepanjang sisi lain dari zona penyangga.

Para pengunjuk rasa juga menuntut "hak untuk kembali" ke rumah-rumah dan desa-desa tempat keluarga mereka diusir paksa pada saat pembentukan negara Israel. Dalam perkembangan terpisah, Bank Dunia bulan lalu memperingatkan kondisi perekonomian jalur Gaza yang semakin memprihatinkan. Bank Dunia menyerukan tindakan mendesak oleh Israel dan masyarakat internasional untuk menghindari kehancuran.

Menurut laporan Bank Dunia, ekonomi Gaza mengalami penyusutan sebesar 6 persen pada kuartal pertama 2018. Saat ini pengangguran di atas 50 persen dan lebih dari 70 persen adalah pemuda Gaza. Kondisi ini tercipta karena berbagai faktor.

Blokade Israel yang berlangsung selama satu dasawarsa di jalur itu menjadi faktor utama. Selain itu, kondisi ini juga disebabkan oleh  pemotongan anggaran oleh Otoritas Palestina  dan pengurangan bantuan internasional untuk Palestina, terutama dari Amerika Serikat (AS).

"Kombinasi perang, isolasi, dan persaingan internal telah membuat Gaza berada dalam keadaan ekonomi yang melumpuhkan dan memperburuk penderitaan manusia," kata direktur Bank Dunia untuk kawasan itu, Marina Wes.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement