Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Tiga Tahun Disandera, Wartawan Perang Jepang Bebas

Rabu 24 Okt 2018 15:45 WIB

Rep: Marniati/ Red: Teguh Firmansyah

Wartawan Jepang Jumpei Yasuda yang hilang kontak di Suriah.

Wartawan Jepang Jumpei Yasuda yang hilang kontak di Suriah.

Foto: japan times
Shinzo Abe mengaku lega mendengar kabar pembebasan tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID,  TOKYO -- Pemerintah Jepang telah menerima informasi bahwa seorang pria yang diyakini sebagai seorang jurnalis freelance Jepang telah dibebaskan. Jurnalis itu yang bernama Jumpei Yasuda dan saat ini sudah berada di Turki. Ia ditahan di Suriah tiga tahun lalu.

Seperti dilansir Aljazirah, Rabu  (24/10), Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengatakan pada konferensi pers bahwa Jepang menerima informasi dari Qatar bahwa Jumpei Yasuda telah dibebaskan. Yasuda terakhir terdengar dari Suriah pada  2015.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengaku lega mendengar kabar pembebasan itu. Tetapi pemerintah masih perlu mengkonfirmasi identitas lelaki itu. Berbicara kepada wartawan, Abe mengucapkan terima kasih kepada Qatar dan Turki atas kerja sama mereka dalam membebaskan sandera. "Saya lega mendengar informasi itu. Kami ingin memastikan apakah pria itu adalah  Jumpei Yasuda sesegera mungkin," kata Abe.

Baca juga, Sekelumit Kisah Tentang Wartawan Jepang yang Disandera.

Suga mengatakan sebelumnya pemerintah sedang melakukan pemeriksaan untuk mengonfirmasi orang yang dibebaskan adalah Yasuda. "Tetapi sangat mungkin itu memang Yasuda," katanya.

Ia menambahkan bahwa istri wartawan itu telah diberitahu. Yasuda mulai melaporkan tentang Timur Tengah pada awal  2000-an.

Dia disandera di Irak pada 2004 dengan tiga warga Jepang lainnya, tetapi dibebaskan setelah para ulama Islam menegosiasikan pembebasannya. Perjalanan terakhirnya ke Suriah  pada  2015 untuk melaporkan rekannya, Kenji Goto, yang disandera dan dibunuh oleh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Yasuda tidak diketahui kabarnya setelah mengirim pesan ke freelancer Jepang lainnya pada 23 Juni 2015. Dalam unggahan di Twitter terakhirnya dua hari sebelum hilang, Yasuda mengatakan bahwa laporannya sering terhambat. Ia mengaku akan berhenti berkicau tentang keberadaan dan aktivitasnya.

Beberapa video yang menunjukkan seorang pria yang diyakini sebagai Yasuda telah dirilis pada tahun lalu. Salah satu video dirilis pada  Juli, pria itu mengatakan dia berada di lingkungan yang berbahaya dan perlu diselamatkan dengan segera.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA