Senin 12 Nov 2018 10:57 WIB

Perang Kota di Hudeidah Ancam Jalur Bantuan Yaman

Pasukan Koalisi Saudi dan Houthi berebut menaklukkan wilayah strategis ini.

persediaan makanan di Yaman. Ilustrasi
Foto: Middle East Monitor.
persediaan makanan di Yaman. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, ADEN— Pertempuran di jalan-jalan terjadi pada Ahad (11/11) di kawasan-kawasan permukiman dekat kota pelabuhan utama Yaman, Hudeidah. Peristiwa ini memaksa staf medis meninggalkan rumah sakit terbesar di daerah itu. Sementara pemberontak Houthi berusaha mengusir pasukan dukungan koalisi pimpinan Arab Saudi.

Penduduk setempat mengatakan, mereka melihat jasad tujuh warga sipil terperangkap dalam bentrokan-bentrokan di daerah pinggiran di selatan kota. 

Kedua pihak menggunakan mortir, senjata anti pesawat terbang dan senapan-senapan serbu dalam pertempuran untuk merebut kota yang dikuasai Houthi, urat nadi bagi jutaan rakyat Yaman.

Koalisi itu memperbarui ofensifnya atas Hudeidah sementara sekutu Barat, termasuk Amerika Serikat, menyerukan gencatan senjata untuk mendukung usaha-usaha pimpinan PBB guna mengakhiri perang yang hampir berlangsung empat tahun. Lebih dari 10 ribu orang tewas dalam perang itu yang membawa Yaman ke jurang kelaparan.

Sumber-sumber medis di rumah sakit al-Thawra mengatakan kepada Reuters, beberapa anggota staf dan pasien-pasien yang dapat bergerak telah meninggalkan kompleks rumah sakit itu. Belum segera jelas berapa banyak pasien yang masih berada di dalam rumah sakit itu.

"Pihak Houthi memperkuat posisi-posisi mereka dekat rumah sakit dan ini yang membuat takut orang-orang," kata seorang anggota staf rumah sakit.

Juru bicara rumah sakit Khaled Attiyah mengatakan kepada Reuters, para dokter dan juru rawat terus bekerja di unit-unit rumah sakit seperti unit rawat intensif, bangsal luka bakar dan ruang gawat darurat "kendati ada kepanikan".

Pekan lalu, kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan pihak Houthi telah memeriksa rumah sakit 22 Mei itu di di pinggiran timur kota dan menempatkan pria-pria bersenjata di atap, membahayakan para dokter dan pasien.

PBB dan kelompok-kelompok bantuan telah memperingatkan serangan skala penuh atas Hudeidah, pintu masuk bagi 80 persen dari impor pangan dan pasokan pertolongan negara itu, akan memicu kelaparan di Yaman yang sudah miskin.

Sejumlah pejabat senior di era pemerintahan Obama, termasuk mantan penasihat Keamanan Nasional Susan Rice dan mantan direktur CIA John Brennan, menyerukan Presiden AS Donald Trump agar menghentikan semua dukungan bagi perang itu.

"Kami mendengar ledakan keras dan mereka menggunakan semua jenis senjata, menakutkan," kata Abdullah Mohammad, seorang warga. "Di bagian pinggiran timur, helikopter-helikopter Apache mengebom posisi-posisi Houthi sepanjang hari."

 

sumber : Antara/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement