Senin, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Senin, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

NATO Minta Rusia dan Ukraina Tahan Diri

Senin 26 Nov 2018 14:56 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Kapal perang Rusia

Kapal perang Rusia

Rusia tembaki Kapal Angkatan Laut Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL-- Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) meminta Rusia dan Ukraina menahan diri agar tidak terjadi ketegangan yang lebih besar. Peringatan itu disampaikan setelah Rusia menembak dan menyita tiga kapal angkatan laut Ukraina di perairan Laut Hitam.

"NATO mengawasi secara dekat pembangunan di Laut Azov dan Selat Kerch dan kami sedang menghubungi pemerintah Ukraina, kami meminta untuk menahan diri dan menurunkan ketegangan," kata Juru bicara Nato Oana Lungescu, seperti dilansir dari the Guardian, Senin (26/11).

Ketegangan ini terjadi ketika tiga kapal angkatan laut Ukraina melewati Selat Kerch yang menghubungkan Laut Azov dan Laut Hitam. Rusia mengaku telah memperingatkan kapal Ukraina agar tak memasuki kedaulatan Moskow. 

Seorang reporter Rossiya-24, stasiun televisi milik Rusia melaporkan dari jembatan Selat Kerch, Rusia menutup wilayah tersebut. Mereka menggunakan kapal kargo untuk memblokir jalur di bawah jembatan dan pesawat tempur militer Rusia juga sedang berputar-putar di atas area tersebut.

Baca juga, Rusia Tembaki Kapal Ukraina.

Pada September lalu, Ukraina menyatakan penjaga perbatasan Rusia telah melakukan 'tindakan provokatif' kepada kapal-kapal Ukraina yang melalui jalur yang sama.

Baru-baru ini Ukraina meningkatkan kekuatan angkatan laut mereka dengan menambah jumlah kapal tempur dan penjaga perbatasan yang berpatroli di sekitar Laut Azov. Peningkatkan kekuatan ini sebagai tanggapan atas semakin seringnya pemeriksaan kapal-kapal komersial yang dilakukan Rusia.

Pemerintah Ukraina dan negara-negara Barat telah menuduh pemerintah Rusia memblokir kapal-kapal dari Mariupol yang mana menjadi akses vital industri berat di wilayah tersebut. Mariupol berada di dekat area yang dikuasai pemberontak yang didukung Rusia sejak konflik berdarah yang menewaskan setidaknya 10 ribu pada 2014 lalu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA