Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Inggris Desak Dewan Keamanan PBB Selesaikan Perang Yaman

Rabu 28 Nov 2018 11:53 WIB

Rep: Marniati/ Red: Nur Aini

Kondisi wilayah di Sanaa, Yaman, akibat perang antara milisi Houthi dan pendukung Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Kondisi wilayah di Sanaa, Yaman, akibat perang antara milisi Houthi dan pendukung Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Foto: Reuters
Pembicaraan damai antara pihak yang berkonflik di Yaman dijadwalkan pada Desember.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Inggris mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan atas krisis kemanusiaan Yaman. Ke-15 anggota DK PBB terus berupaya membuat rancangan resolusi untuk menetapkan lima permintaan. Salah satunya adalah permintaan untuk gencatan senjata di sekitar fasilitas bantuan.

Seorang diplomat mengatakan beberapa negara anggota DK PBB ingin membahas resolusi setelah adanya pembicaraan damai. Pembicaraan damai direncanakan pada bulan depan.

Negara-negara Barat mendesak gencatan senjata dan memperbarui upaya perdamaian untuk mengakhiri konflik yang berlangsung lebih dari tiga tahun itu. Konflik Yaman dilihat sebagai perang proksi antara Arab Saudi dan Iran.

Perekonomian Yaman dalam krisis dan tiga perempat dari penduduknya, atau 22 juta orang, membutuhkan bantuan. Sekitar 8,4 juta berada di ambang kelaparan, PBB  memperingatkan bahwa angka itu akan meningkat menjadi 14 juta.

Dalam dokumen yang dilihat oleh Reuters, Amerika Serikat (AS) memberi isyarat kepada anggota DK PBB pada Selasa bahwa pihaknya belum siap pada rancangan resolusi sampai setelah perundingan berlangsung.

"Kami menantikan diskusi yang sedang berlangsung selama periode kritis ini, dan akan terus memantau dengan seksama baik situasi di lapangan, dan kemajuan menuju pembicaraan," kata dokumen itu.

Inggris mengedarkan draft ke anggota DK PBB sepekan yang lalu. Tetapi belum ada jadwal untuk pemungutan suara.

"Diskusi tentang resolusi sedang berlangsung dan kami akan menempatkannya pada pemungutan suara pada titik yang paling baik bagi rakyat Yaman," kata juru bicara Kantor Urusan Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris.

Sebuah koalisi militer yang dipimpin Saudi mengintervensi di Yaman pada 2015. Mereka mendukung pasukan pemerintah yang memerangi kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran. Kelompok Houthi sekarang menguasai sebagian besar penduduk Yaman, sementara pemerintah yang diasingkan menguasai sebagian wilayah selatan.

Utusan Khusus PBB untuk konflik Yaman mengatakan kepada DK PBB awal bulan ini bahwa kelompok yang berperang di Yaman telah memberikan jaminan bahwa mereka berkomitmen untuk menghadiri pembicaraan damai.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA