Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Iran: AS Terlalu Berlebihan Jual Senjata ke Timteng

Sabtu 08 Dec 2018 18:32 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Teguh Firmansyah

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif.

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif.

Foto: Reuters
Rouhani ingatkan narkoba dan terorisme bisa 'banjiri' Barat

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menilai AS telah menjual banyak senjata ke Timur Tengah, melebihi kebutuhannya. Dengan demikian, kata  dia, Timur Tengah menjadi mudah 'tersulut.'

Zarif juga memperingatkan tentang bahaya penjualan senjata AS yang besar di Timur Tengah. Saingan regional Iran, Arab Saudi, adalah pembeli utama dari senjata-senjata Barat.

"Amerika telah mengubah wilayah ini menjadi mudah tersulut. Tingkat penjualan senjata tidak dapat dipercaya dan jauh melampaui kebutuhan regional dan ini menunjukkan kebijakan yang sangat berbahaya yang diikuti oleh Amerika," ungkap Zarif, Jumat (7/12).

Baca juga, Trump: Jika Terus Mengancam Iran akan Menderita.

Sementara Presiden Iran Hassan Rouhani memprediksi arus narkoba, pengungsi, dan serangan bom akan membanjiri Barat. Hal itu menurutnya bukan tidak mungkin jika sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran melemahkan kemampuan Teheran untuk menahan ketiga arus tersebut.

"Saya memperingatkan mereka yang menjatuhkan sanksi, jika kemampuan Iran untuk memerangi narkoba dan terorisme terpengaruh ... Anda tidak akan aman dari banjir narkoba, pencari suaka, bom, dan terorisme," kata Rouhani, dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi pemerintah.

Perdagangan narkoba adalah tantangan serius bagi Iran karena perbatasannya dengan Afghanistan dan Pakistan. Dua negara itu merupakan produsen opium terbesar dunia, sehingga Iran telah menjadi negara transit utama untuk narkoba.

Menurut sebuah laporan PBB yang diterbitkan pada 2014, pada 2012, Iran menyumbang dua pertiga dari produksi opium dunia dan seperempat dari produksi heroin dan morfin dunia.

"Terorisme ekonomi berarti menciptakan horor di suatu negara dan menciptakan ketakutan di negara-negara lain yang berniat untuk berinvestasi (di sana). Penarikan Amerika dari (kesepakatan nuklir) tidak diragukan lagi merupakan contoh nyata dari terorisme ekonomi," papar Rouhani.

Presiden AS Donald Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir multilateral dengan Iran pada Mei. Trump kemudian memberlakukan kembali sanksi terhadap industri minyak penting Iran bulan lalu.


sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA