Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Trump Kaitkan Demonstrasi Prancis dengan Keputusan AS

Senin 10 Dec 2018 11:47 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump.

Presiden AS Donald Trump.

Foto: AP Photo/Andrew Harnik
Trump menarik AS dari perjanjian iklim Paris.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON, ANKARA -- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengkritik Kesepakatan Perubahan Iklim Paris untuk menanggai aksi unjuk rasa di Prancis.

"Perjanjian Paris tidak berjalan dengan sangat baik untuk Paris," kata presiden AS dalam akun resmi Twitternya seperti dikutip France24, Senin (10/12).

Trump memuji dirinya karena telah menarik AS dari kesepakatan iklim Paris. Hal itu kembali diungkit Trump setelah Pemerintah Prancis memutuskan menangguhkan pajak bahan bakar guna meredakan kericuhan demonstran rompi kuning di negaranya.
"Saya senang teman saya @EmmanuelMacron dan para pemrotes di Paris setuju dengan kesimpulan yang saya capai dua tahun lalu (terkait kesepakatan iklim Paris)," kata Trump melalui akun Twitter pribadinya pada Selasa (4/12) malam.

"Kesepakatan (iklim) Paris itu sangat salah karena meningkatkan harga energi untuk negara-negara yang bertanggung jawab sambil menutup-nutupi beberapa pencemar terburuk," ujar Trump.

Trump sebelumnya mendukung gerakan Rompi Kuning. Dia memberi hormat kepada pengunjuk rasa Prancis sebab menyetujui dengan kesimpulan yang ia capai dua tahun lalu. "Perjanjian Paris adalah cacat fatal," kata Trump.

Gerakan Rompi Kuning tumbuh sebagai respons terhadap kenaikan harga bahan bakar. Protes pada Sabtu juga merujuk pasa March Iklim, yang diikuti sejumlah Rompi Kuning. "Lihatlah apa yang dilakukan polisi terhadap mereka yang mengkritik polisi kami!"

Adapun kesepakatan iklim Paris berisi sejumlah ketentuan yang cukup komprehensif terkait perubahan iklim. Kesepakatan yang dibuat pada 2015 tersebut, mengharuskan negara-negara terlibat atau terikat untuk mengurangi emisi karbon yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

Sekitar 147 negara, termasuk AS, telah menandatangani kesepakatan itu. Hanya terdapat dua negara yang abstain, yakni Suriah dan Nikaragua.  Namun pada Juni 2017, Trump memutuskan menarik AS dari kesepakatan tersebut. Ia mengaku keberatan dengan ketentuan di dalam kesepakatan dan menuding bahwa kesepakatan itu merupakan tipuan yang dibuat Cina.

Trump menghendaki agar kesepakatan iklim Paris dapat dirombak kembali. "Kami akan bergerak untuk menegosiasikan kesepakatan yang lebih adil dan tentunya tidak merugikan bisnis serta semua pekerja di AS," ujarnya.

Selama akhir pekan lalu, lebih dari 130 ribu orang berdemonstrasi di seluruh Prancis. Di Paris, demonstrasi berujung ricuh setelah massa terlibat bentrokan dengan aparat keamanan. Sejumlah mobil menjadi sasaran pembakaran. Restoran, bank, dan butik-butik mewah di kota tersebut pun turut dirusak dan dijarah para demonstran.

Kerusuhan di Paris akhir pekan lalu menjadi yang terburuk sejak 1968. Menteri Dalam Negeri Prancis Christophe Castaner mengatakan, sebanyak 118 pengunjuk rasa dan 17 aparat kepolisian mengalami luka dalam gejolak unjuk rasa di seluruh wilayah Prancis.
Castener juga telah memperbarui angka demonstran hingga Ahad (9/12) sore waktu setempat menjadi 136 ribu. "Sebanyak 1.220 orang ditangkap selama demonstrasi," ujarnya. Puluhan kendaraan lapis baja dan 89 ribu personel, termasuk 8.000 aparat di Paris dikerahkan dalam unjuk rasa yang telah memasuki pekan keempat ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA