Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Raja Salman: Ekstremis dan Teroris Terus Ancam Kita

Senin 10 Dec 2018 14:41 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Raja Salman

Raja Salman

Foto: Reuters
Raja Salman menilai Iran terus menyampuri urusan negara lain.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz memperingatkan tentang ancaman Iran saat berbicara di KTT Dewan Kerja Sama Teluk ke-39 yang digelar di Riyadh, Ahad (9/12). Ia menyebut kekuatan kelompok ekstremis dan teroris terus membayangi situasi keamanan di kawasan Teluk dan Arab.

"Kekuatan ekstremis dan teroris terus mengancam keamanan kita di Teluk dan di dunia Arab," ujar Raja Salman, dikutip laman Al Araby.

Peringatan tentang ancaman tersebut kemudian dikaitkan Raja Salman dengan Iran. "Rezim Iran melanjutkan kebijakan bermusuhan dan terus campur tangan dalam urusan internal negara-negara lain," katanya.

Baca juga, Qatar akan Tarik Diri dari OPEC, Ada Apa?

Tak lama setelah pernyataan Raja Salman tersebar, Menteri Luar Neger Iran Javad Zarif mengatakan kawasan Teluk memiliki terlalu banyak orang kuat yang hanya menyebabkan perang dan kesengsaraan. Pahadal yang dibutuhkan adalah kawasan yang lebih kuat daripada orang kuat.

Perhelatan KTT Dewan Kerja Sama Teluk ke-39 di Riyadh diwarnai ketidakhadiran Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani. Padahal dia telah diundang secara resmi oleh Raja Salman.

Ketidakhadiran Emir Tamim diduga karena masih adanya aksi pemboikotan terhadap Qatar oleh negara-negara Teluk. Sejak Juni tahun lalu, Saudi, Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat Arab telah memutuskan hubungan diplomatik serta memboikot Qatar.

Hal itu dilakukan karena keempat negara menuduh Doha menyokoh kelompok teroris dan ekstremis di kawasan. Tuduhan itu telah dibantah tegas oleh Qatar.

Saudi dan koalisinya kemudian mengajukan sejumlah tuntutan bila Qatar hendak lepas dari blokade dan boikot. Salah satu tuntutannya adalah memutuskan hubungan dengan Iran. Qatar menilai tuntutan keempat negara Teluk terhadapnya tidak logis dan mustahil diwujudkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA