Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Hewan Peliharaan di Belakang Rumah Bisa Bawa Penyakit

Kamis 13 Dec 2018 23:58 WIB

Red: Nur Aini

Kelelawar (Ilustrasi)

Kelelawar (Ilustrasi)

Hewan peliharaan di pinggiran kota bisa terpapar hewan liar pembawa penyakit.

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Para pakar penyakit menular di Australia mengatakan semakin meningkatnya kebiasaan warga memelihara ternak di belakang rumah berpotensi menjadi bom waktu penyebaran wabah penyakit.

Direktur penelitian lembaga penelitian utama di Australia CSIRO untuk Kesehatan dan Biosecurity Paul De Barro mengatakan ada risiko yang semakin besar bahwa ayam, babi, atau kambing yang dipelihara bisa menjadi pembawa wabah penyakit yang mematikan manusia. Hewan peliharaan, khususnya di pinggiran kota dan kota, terpapar hewan liar, seperti kelelawar, yang membawa penyakit seperti virus Hendra atau Nipah.

"Ketika populasi urban menyebar, mereka pindah ke area hutan, area alami dan karena itu kita semakin dekat dekat dengan hewan liar," katanya kepada ABC.

"Perubahan iklim juga dianggap sebagai sebuah faktor pemicu, di mana kita menyaksikan hewan-hewan telah mengubah perilaku mereka misalnya kelelawar terbang yang menjadi semakin sering dijumpai di perkotaan - 50 tahun yang lalu, hal itu tidak dijumpai.

"Ketika kita mendapatkan perubahan ini, resiko dari kemungkinan penyebaran dari hewan ke manusia semakin meningkat."

Wabah sulit diprediksi (dan dibendung)

Menurut Dr de Barro mengatakan risiko penyebaran penyakit dari hewan ke manusia juga bisa dialami mereka yang tinggal di perkotaan. Dia mengatakan misalnya ada wabah flu burung, pihak berwenang di Australia tidak akan tahu siapa yang memiliki ayam, atau di mana, karena tidaknya pendaftaran kepemilikan hewan di sini.

Sehingga katanya usaha membendung wabah penyakit itu tidak mungkin terjadi. "Yang tidak kita ketahui adalah kapan mereka akan terjadi, kita tidak tahu frekuensinya dan kita bahkan tidak tahu skala atau konsekuensinya," katanya.

"Bisa jadi ada beberapa orang yang jadi korban namun mungkin ratusan orang mati."

Menurut Dr de Barro, para ilmuwan juga sampai sekarang belum memahami bagaimana sebuah penyakit bisa berpindah dari hewan liar ke hewan peliharaan dan kemudian ke manusia. "Pengawasan yang kita miliki untuk penyakit-penyakit yang disebarkan oleh hewan ke manusia ini belum memadai." kata Dr de Barro.

"Saya tidak bisa menjelaskan mengapa, atau dalam kondisi apa, virus seperti Hendra bergerak dari kelelawar menular ke kuda lalu menular ke manusia, jadi sulit untuk membuat prediksi seputar kemungkinannya."

Survei nasional terhadap satwa liar yang terus berlangsung dan penyakit yang mereka bawa sangat penting untuk mengurangi risiko, kata Dr De Barro. "Kami tidak benar-benar tahu penyakit apa yang ada pada burung asli, marsupial, kelelawar," katanya.

"Dan kami tidak memantau frekuensi penyakit-penyakit ini, jadi saya tidak bisa menjelaskan apakah penumpukan virus pada hewan tertentu di pinggiran kota tertentu."

Dr de Barro mengakui wabah jarang terjadi di Australia, tetapi dia memperingatkan bahwa peluang hal itu terjadi ada di sekitar kita. "Di sebelah utara kita adalah 'wilayah panas' Asia, yaitu Asia Tenggara di mana sering terjadi penyebaran wabah penyakit karena ada warga hidup berdampingan dengan babi dan unggas dan hewan liar lainnya," katanya.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.

sumber : http://www.abc.net.au/indonesian/2018-12-13/bom-waktu-wabah-penyakit-dari-hewan-peliharaan-dipekarangan/10613556
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA