Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Korsel dan Korut Mulai Bangun Jalur Rel Kereta Api Bersama

Rabu 26 Des 2018 13:43 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Nur Aini

Perbatasan Korut dan Korsel, tampak di belakang turis Amerika terlihat berdiri di area perbatasan Korea Selatan

Perbatasan Korut dan Korsel, tampak di belakang turis Amerika terlihat berdiri di area perbatasan Korea Selatan

Foto: AP
Pembangunan rel kel kereta api dimulai di Stasiun Panmun, perbatasan Korut.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) mengadakan upacara peletakan batu pertama secara simbolis untuk memulai pembangunan jalan raya dan jalur rel kereta api, pada Rabu (26/12). Akses jalan itu akan melintasi perbatasan dan menghubungkan kedua negara tersebut.

Delegasi Korsel yang terdiri dari 100 pejabat, termasuk menteri transportasi dan menteri unifikasi, melakukan perjalanan kereta selama dua jam untuk menghadiri upacara tersebut. Upacara dilakukan di Stasiun Panmun di kota perbatasan Korut, Kaesong.

"Upacara peletakan batu pertama ini bermakna karena menunjukkan kesediaan Korut untuk secara aktif bekerja sama dalam proyek modernisasi dan koneksi kereta api dan jalan raya mereka," kata Kementerian Transportasi Korsel dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh kantor berita Yonhap.

Upacara ini digelar beberapa pekan setelah kedua negara melakukan survei bersama terhadap jaringan kereta api Korut yang suatu hari dapat memberikan layanan langsung ke Korsel. Survei itu menandai pertama kalinya dalam satu dekade kereta Korsel melakukan perjalanan di jalur rel Korut.

Belum ada tanggal yang ditetapkan kapan akan dimulai pekerjaan konstruksi pada proyek-proyek kereta api dan jalan raya itu. Kementerian unifikasi Korsel menekankan upacara tersebut merupakan ekspresi komitmen dan keberhasilan proyek akan bergantung pada Korut yang membuat kemajuan dalam denuklirisasi.

Pekerjaan konstruksi juga dapat ditahan oleh sanksi internasional terhadap Pyongyang. Seoul mengatakan, Dewan Keamanan PBB telah memberikan pengecualian sanksi untuk memfasilitasi upacara peletakan batu pertama, yang melibatkan kendaraan serta bahan transportasi dari Korsel.

Para ahli juga memperingatkan, memodernisasi serta menyatukan jalan dan jalur rel kereta api bisa memakan waktu puluhan tahun dan membutuhkan investasi besar-besaran. Kim mengakui kondisi kereta di negaranya berada dalam kondisi memalukan, dalam pertemuan pertamanya dengan Moon pada April lalu.

Pejabat transportasi senior dari Rusia, Cina, dan Mongolia turut menghadiri upacara peletakan batu pertama itu. Suatu hari nanti, hal ini bisa mengarah pada hubungan langsung antara semenanjung Korea dan Eropa melalui Trans Siberian Railway.

Proyek ini adalah yang terbaru dalam serangkaian langkah yang dirancang untuk meningkatkan hubungan bilateral. Kesepakatan telah disepakati antara pemimpin Korut Kim Jong-un dan Presiden Korsel Moon Jae-in.

Kemajuan hubungan bilateral terus berlanjut meskipun ada kebuntuan dalam negosiasi denuklirisasi antara Korut dan AS. Kedua negara tersebut belum mengadakan pembicaraan lanjutan selama beberapa bulan.

Dilansir dari The Guardian, awal bulan ini Korut mengatakan sanksi baru AS terhadap tokoh senior di negaranya adalah sebuah tindakan provokasi yang disengaja. Sanksi itu dapat menggagalkan upayanya untuk melakukan denuklirisasi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA