Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

India Luncurkan Program Perangi Udara Kotor

Sabtu 12 Jan 2019 05:21 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Andi Nur Aminah

Kualitas udara di India yang semakin memburuk (ilustrasi)

Kualitas udara di India yang semakin memburuk (ilustrasi)

Foto: AFP
Kualitas udara di India memburuk tingkat kritis dalam beberapa tahun terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Pemerintah India meluncurkan kampanye untuk meningkatkan kualitas udara di lebih dari 100 kota yang dilanda pencemaran udara di negara tersebut. Kualitas udara di negara berpenduduk lebih dari 1,25 miliar orang itu memburuk ke tingkat kritis dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, ibu kota India, New Delhi dan 13 kota lainnya masuk dalam 15 besar sebagai kota paling tercemar di dunia. Daftar itu dirilis oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Menteri Lingkungan Hidup India, Harsh Vardhan mengatakan Program Udara Bersih Nasional (NCAP) akan mencakup 102 kota di negara itu. Menurut dia, program itu bertujuan memotong tingkat partikel paling berbahaya di bawah 10 mikron dengan diameter 20 hingga 30 persen pada 2024. Dia mengatakan, partikel-partikel tersebut dapat menjadi penyebab meningkatnya jumlah bronkitis kronis, kanker paru-paru, dan penyakit jantung di kota-kota India.

Vardhan mengatakan pemerintah mengalokasikan 3 miliar rupee (42 juta dolar AS) untuk mengimplementasikan rencana tersebut. Dia optimistis program itu mampu menyumbat sumber polusi utama, yakni emisi industri dan lalu lintas, pembakaran massal limbah pertanian dan konstruksi.

Vardhan hanya mengatakan NCAP melakukan tindakan mitigasi komprehensif untuk pencegahan, pengendalian, dan pengurangan polusi udara. Kelompok-kelompok peduli lingkungan yang selama ini mendesak pemerintah berperang melawan polusi, cukup berhati-hati merespon program itu.

“Rencana itu sudah lama tertunda dan merupakan langkah maju, tetapi kita perlu memiliki kejelasan tentang target dan akuntabilitas,” juru kampanye senior untuk Greenpeace India, Sunil Dahiya.

Dia berharap pemerintah memasang target lebih jauh menangani polusi udara, memiliki target spesifik untuk kota-kota, dan membuat dukungan hukum kuat untuk mengambil tindakan untuk pelanggarnya.

Inisiatif itu akan meningkatkan pemantauan polusi dan kesadaran publik tentang bahaya. India hanya memiliki sekitar 40 stasiun pemantauan polusi real time di seluruh negeri. Kondisi itu membuat banyak penduduknya tidak mengetahui adanya potensi polusi udara.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu di Lancet Planetary Health, udara beracun bertanggung jawab atas 1,24 juta kematian dini di India pada 2017. Penelitian itu juga mengatakan puluhan juta orang India menghadapi risiko kesehatan yang serius. Sebanyak 20 juta penduduk Delhi menderita karena kabut asap tahunan dalam musim dingin, ketika petani membakar beras dan gandum.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA