Jumat 18 Jan 2019 00:03 WIB

Bandara di AS Ganti Nama Jadi ‘Muhammad Ali’

Almarhum Muhammad Ali dinilai masih menjadi inspirasi bagi rakyat Amerika Serikat.

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Teguh Firmansyah
Muhammad Ali (file)
Foto:

Menurut janda dari Muhammad Ali itu, almarhum suaminya sudah menjadi “warga dunia” karena ketenaran yang diperolehnya tidak hanya dari atas ring tinju, tetapi juga berbagai aktivitas kemanusiaan, anti-rasisme, dan anti-penindasan. Namun, hati Muhammad Ali tetap terpaut pada kota kelahirannya, Louisville.

“Dia (Muhammad Ali) tidak pernah melupakan kota ini yang telah memberikan kesempatan pertama. Ini (penamaan ulang bandara Louisville –Red) adalah testamen atas legasinya selama hidup,” kata Lonnie Ali dalam rilis tersebut.

Muhammad Ali lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr pada 17 Januari 1942. Sejak awal kariernya sebagai petinju, dia sudah dikenal sebagai figur yang inspiratif dan berpengaruh tidak hanya di dunia olah raga, tetapi juga sosial dan politik.

Dia sangat membenci rasisme dan kekerasan negara. Pada 1966, misalnya, Ali menolak mengikuti wajib militer. Dia juga mengecam keterlibatan AS dalam Perang Vietnam.

“Saya tidak punya kebencian terhadap seorang pun Viet Cong. Tidak ada seorang Vietnam pun yang pernah memanggil saya dengan sebutan ‘negro’,” kata-katanya yang sering dikutip.

Oleh karena “pembangkangan” itu, Ali dipaksa menerima skors, sehingga gelar juaranya dicabut oleh Komisi Tinju. Bagaimanapun, dia kemudian berhasil memenangkan banding di Mahkamah Agung AS, sehingga gelarnya itu pulih pada 1971.

Muhammad Ali pertama kali ke Indonesia pada 20 Oktober 1973 dalam rangka untuk mengikuti pertandingan tinju melawan Rudie Lubbers. Duel kelas berat itu dihelat di Istora Senayan, Jakarta, dan dimenangkan petinju Muslim tersebut. Tahun 1964 menjadi masa yang penting karena pada saat itulah dia memutuskan untuk memeluk Islam.

Pada mulanya, orang-orang dan banyak pers tidak terima kenyataan itu. Malahan, banyak media massa yang masih menyebutnya dengan nama lahirnya, Cassius Clay. Bagaimanapun, sang juara terus berdiri tegak.

“Cassius Clay adalah nama seorang budak. Saya bukan yang memilih itu, dan juga saya tidak menghendakinya. Saya sekarang Muhammad Ali, itu nama orang bebas. Artinya, ‘yang disayangi Tuhan’. Dan saya ingin agar orang-orang memakai nama itu kapan pun mereka membicarakan saya atau berbicara dengan saya,” kata-katanya yang marak dikutip.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement