Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Rouhani Tuduh AS Dikte Venezuela

Ahad 03 Feb 2019 13:49 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Iran Hassan Rouhani

Presiden Iran Hassan Rouhani

Foto: AP
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menolak seruan untuk mundur.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Presiden Iran Hassan Rouhani kembali menuduh Amerika Serikat (AS) melawan pemerintah dan rakyat Venezuela. AS mencoba menggulingkan pemerintahan Nicolas Maduro. Hal itu dikatakannya saat pertemuan dengan Duta Besar Venezuela, Carlon Antonio Alcala Cordones, yang menyerahkan surat kepercayaannya kepada pemimpin Iran di Teheran.

Baca Juga

"Kami percaya rakyat Venezuela, dengan persatuan dan solidaritas bersama dengan pemerintah, akan menggagalkan rencana ini seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya," kata Rouhani seperti dikutip IRNA dari Anadolu Agency, Ahad (3/2).

Rouhani menilai AS menentang semua revolusi populer dari negara-negara merdeka. AS juga, kata dia berniat mendikte dominasinya di seluruh dunia termasuk Venezuela. Duta Besar Venezuela yang baru terpilih, memuji dukungan dari pemimpin Iran tersebut.

Venezuela telah diguncang oleh protes rakyat yang dikuatkan oleh oposisi sejak 10 Januari ketika Presiden Nicolas Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua. Ketegangan meningkat pada 23 Januari ketika pemimpin oposisi dari Majelis Nasiinak, Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara.

Guaido menyerukan protes baru pada Sabtu (2/2) menuntut Maduro menyerahkan kekuasaan setelah sepekan terjadi protes massa sporadis yang menewaskan puluhan orang. Diperkirakan, putaran demonstrasi terakhir berlangsung pada Rabu.

AS, Kanada, dan sebagian besar negara Amerika Latin telah mengakui Guaido sebagai pemimpin sah Venezuela. Meski demikian Maduro menolak seruan untuk mundur. Sehingga dia mengajak oposisi duduk berdialog menyoal ketegangan negara kaya minyak itu.

Maduro pun menuduh AS mengatur kudeta terhadap pemerintahnya. "Saya terbuka untuk berdialog dengan oposisi, tetapi bukan pemilihan nasional yang baru," kata Maduro.

Sementara Rusia, Cina, Turki, Iran sama-sama menentang seruan AS untuk mendukung Guaido. Negara-negara tersebut mengutuk setiap campur tangan internasional dalam urusan Venezuela.

AS telah memimpin kampanye internasional untuk menerapkan tekanan ekonomi dan diplomatik pada Maduro. Tekanan ekonomi termasuk memberikan sanksi kepada perusahaan minyak milik negara dan usaha patungan dengan kondisi mitra Nikaragua. Hal itu telah memperingatkan dampak serius jika Guaido gagal naik.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA