Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Abbas Lakukan Kunjungan ke Saudi

Selasa 12 Feb 2019 16:40 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas

Foto: Reuters
Kedatangan Abbas di bandara Riyadh disambut Pangeran Faisal bin Badr bin Abdul Aziz.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Presiden Palestina Mahmoud Abbas melakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi pada Senin (11/2). Kunjungan tersebut dilakukan saat Israel sedang berusaha melobi Saudi dan negara-negara Teluk lainnya untuk menjalin lebih banyak hubungan dengan Tel Aviv.

Seperti dilaporkan laman kantor berita Palestina WAFA, kedatangan Abbas di bandara Riyadh disambut Pangeran Faisal bin Badr bin Abdul Aziz dan pejabat Saudi lainnya. Dia dijadwalkan melakukan pembicaraan dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud.

Mereka akan membahas tentang situasi politik terkini dan tantangan-tantangan yang dihadapi Palestina, terutama perihal status Yerusalem. Belum ada keterangan apakah Abbas akan turut berdiskusi dengan Putra Mahkota Saudi Pangeran Muhammad bin Salman (MBS).

Kunjungan Abbas ke Saudi terjadi dua hari setelah terbitnya laporan tentang dokumen internal Kementerian Luar Negeri Israel. Dalam dokumen tersebut, Israel menyimpulkan bahwa Saudi tidak akan mendukung rencana perdamaian Timur Tengah yang digagas pemerintahan Donald Trump.

Baca juga, Mahmoud Abbas: Palestina Bukan Musuh Amerika Serikat. 

Riyadh pun enggan menormalisasi hubungan dengan Israel. Kecuali negara tersebut membuat konsesi substantif untuk Palestina. Laporan tersebut diterbitkan Axios, mengutip para pejabat yang membaca dokumen internal Kementerian Luar Negeri Israel.

Laporan Axios juga menyatakan, Raja Salman telah mengambil kembali tanggung jawab proses perdamaian Palestina-Israel dari Pangeran MBS dan meluruskan kembali kebijakan Saudi tentang masalah dengan Prakarsa Perdamaian Arab.

Inisiatif Perdamaian Arab menyerukan Israel untuk meyetujui solusi dua negara di sepanjang garis perbatasan tahun 1967 dan solusi adil bagi para pengungsi Palestina. Imbalannya negara-negara Arab akan menormalisasi hubungannya dengan Israel dan menyatakan konflik Arab-Israel berakhir.

Namun Pangeran MBS sempat dilaporkan menekan Abbas agar menerima rencana perdamaian Timur Tengah yang digagas Trump. Walaupun detail rencana tersebut belum diumumkan Amerika Serikat (AS), tapi Palestina telah menolaknya.

Palestina berpendapat rencana perdamaian yang dikenal dengan istilah "Deal of the Century" itu tidak lagi menyertakan tentang status Yerusalem dan nasib jutaan pengungsi Palestina. AS diketahui telah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017.

Namun anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Ahmad Majdalani menyatakan Raja Salman dan Pangeran MBS masih terlibat dalam proses penyelesaian konflik Israel-Palestina.

"Raja dan putra mahkota telah dan masih terlibat dalam kebijakan Saudi tentang masalah ini. Putra mahkota juga selalu mendukung inisiatif Perdamaian Arab," ujarnya, dikutip laman the Times of Israel.

Terakhir kali Abbas melakukan kunjungan ke Saudi pada April 2018. Saat itu dia menghadiri pertemuan Liga Arab.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA