Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Ilmuwan yang Populerkan Pemanasan Global Tutup Usia

Selasa 19 Feb 2019 15:25 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Budi Raharjo

Pemanasan global menyebabkan suhu bumi bertambah panas dan es di kutub terus menipis.

Pemanasan global menyebabkan suhu bumi bertambah panas dan es di kutub terus menipis.

Foto: EPA
Broecker orang pertama yang mengenali pengaruh pemanasan global ke pola hujan.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Seorang ilmuwan yang memberikan peringatan awal tentang perubahan iklim dan memopulerkan istilah " pemanasan global " tutup usia. Adalah wallace smith broecker meninggal di usia 87 tahun.

Profesor dan peneliti Universitas Columbia meninggal pada Senin (18/2) di sebuah rumah sakit Kota New York, menurut juru bicara Lamont-Doherty Earth Observatory. Kevin Krajick mengatakan, Broecker sakit dalam beberapa bulan terakhir.

Broecker membawa "pemanasan global" menjadi umum digunakan dengan sebuah artikel pada 1975, memperkirakan kenaikan tingkat karbon dioksida di atmosfer akan menyebabkan pemanasan yang nyata. Kemudian menjadi orang pertama yang mengenali apa yang disebutnya Ocean Conveyor Belt, jaringan arus global yang mempengaruhi segala sesuatu mulai dari suhu udara hingga pola hujan.

"Wally adalah orang yang unik, brilian dan agresif. Dia tidak tertipu oleh pendinginan tahun 1970-an. Dia melihat dengan jelas pemanasan yang belum pernah terjadi sekarang sedang terjadi dan memperjelas pandangannya, bahkan ketika hanya sedikit yang mau mendengarkan," kata profesor Universitas Princeton Michael Oppenheimer.

Di Ocean Conveyor Belt, air asin yang dingin di Atlantik Utara tenggelam, bekerja seperti pendorong untuk menggerakkan arus laut dari dekat Amerika Utara ke Eropa. Air permukaan hangat yang ditanggung oleh arus ini membantu menjaga iklim Eropa tetap ringan.

Kalau tidak, katanya, Eropa akan menjadi sangat beku, dengan suhu musim dingin rata-rata turun 20 derajat Fahrenheit atau lebih. Dan London terasa lebih seperti Spitsbergen, Norwegia, yang berjarak 600 mil di utara Lingkaran Arktik.

Broecker mengatakan, penelitiannya menunjukkan bahwa conveyor adalah "tumit Achilles dari sistem iklim", dan fenomena rapuh dapat berubah dengan cepat, karena alasan yang tidak dimengerti. Hanya perlu sedikit kenaikan suhu untuk mencegah air tenggelam di Atlantik Utara, katanya, dan itu akan membuat konveyor berhenti. Broecker mengatakan ada kemungkinan bahwa pemanasan yang disebabkan oleh penumpukan gas rumah kaca bisa cukup untuk mempengaruhi arus laut secara dramatis.   

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA