Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

130 Orang Meninggal Akibat Wabah Campak di Filipina

Selasa 19 Feb 2019 16:17 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Vaksin Campak (ilustrasi)

Vaksin Campak (ilustrasi)

Foto: topnews.in
Mayoritas penderita Campak di Filipina adalah anak-anak.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Lebih dari 130 orang, mayoritas anak-anak, telah meninggal akibat wabah campak di Filipina. Sementara itu, sekitar 8.400 orang lainnya masih dirawat di berbagai rumah sakit di negara tersebut.

Menurut pejabat kesehatan Filipina, dari 130 orang yang telah dilaporkan meninggal, sekitar separuhnya adalah anak-anak berusia satu hingga empat tahun. Banyak dari mereka yang meninggal belum diimunisasi.

Di Ibu Kota Manila, penularan campak melonjak lebih dari 1.000 persen dibandingkan tahun lalu. Menteri Kesehatan Francisco Duque mengungkapkan, upaya imunisasi besar-besaran telah dimulai pekan lalu di kota tersebut.

"Tidak ada seandainya, tidak ada tapi, tidak ada syarat, Anda hanya perlu membawa anak-anak Anda dan percaya bahwa vaksin akan menyelamatkan anak-anak Anda," ujar Duque pada Senin (18/2), dikutip laman Aljazirah.

Ia menyerukan agar warga melenyapkan kekhawatiran tentang desas-desus bahaya vaksin. "Itu (vaksin) jawaban mutlak untuk wabah ini," katanya.

Pekan lalu, Presiden Rodrigo Duterte telah memperingatkan masyarakat tentang ancaman komplikasi fatal jika anak-anak tidak diimunisasi. Menurut Duque, kampanye informasi pemerintah telah membantu memulihkan kepercayaan publik pada program imunisasi. "Tampaknya kepercayaan telah kembali," ujar Duque.

Dalam sepekan terakhir, otoritas kesehatan Filipina berhasil mengisolasi sekitar 130 ribu orang di Manila. Jumlah atau target yang hendak divaksin di kota tersebut adalah 450 ribu orang. Keengganan warga Filipina memvaksin anaknya karena adanya isu tentang Dengvaxia, yakni jenis vaksin yang dikabarkan telah menyebabkan beberapa kematian di sana.

Kepala Kantor Pengacara Publik (PAO) Persida Rueda-Acosta bahkan telah membawa kasus vaksin tersebut ke jalur hukum. PAO menilai terdapat kelalaian dari pihak pemerintah dalam menyaring calon penerima vaksin. Sebab Sanofi Pasteur (produsen vaksin) sendiri menyatakan bahwa penerima yang belum terjangkit dengue akan memiliki risiko lebih tinggi terjangkit penyakit parah.

Tindakan Acosta tak pelak semakin menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Filipina untuk memvaksin anak-anaknya. Namun, Menteri Kehakiman Menardo Guevarra enggan menyalahkan Acosta.

"Kepala PAO Acosta hanya melakukan pekerjaannya dan tentu saja tidak bermaksud menakut-nakuti masyarakat tentang kemungkinan efek negatif dari vaksinasi secara umum," ujar Guevarra awal Februari lalu.

Guevarra mengatakan dia telah memerintahkan panel Departemen Kehakiman untuk menangani dan menyelesaikan kasus terkait Dengvaxia. "Saya telah mengerahkan panel investigasi Dengvaxia untuk menyelesaikan kasus-kasus bulan ini," kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA