Rabu 27 Feb 2019 11:02 WIB

Erdogan: Mengapa Eropa ke Mesir Saat Anggota IM Dieksekusi?

Erdogan menilai Uni Eropa bermuka dua.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah
Recep Tayyip Erdogan
Foto: EPA
Recep Tayyip Erdogan

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengutuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa (UE) dan negara-negara Liga Arab. Erdogan menilai KTT itu "munafik" karena para negara peserta berperilaku ramah kepada Mesir yang beberapa hari lalu telah mengeksekusi sembilan pendukung Ikhwanul Muslimin.

"UE menentang hukuman mati dan eksekusi. Jadi bagaimana kita dapat berbicara tentang demokrasi di negara-negara Uni Eropa yang menerima undangan dari Sisi (Presiden Mesir Abdul Fattah al Sisi), yang telah mengeksekusi sembilan pemuda pada pekan lalu?" ujar Erdogan dilansir Hurriyet Daily News, Rabu (27/2).

Baca Juga

Mesir telah mengeksekusi mati sembilan anggota Ikhwanul Muslimin pada 20 Februari lalu. Mereka dieksekusi atas tuduhan pembunuhan terhadap Jaksa Hisham Barakat. Erdogan menekankan Uni Eropa telah bermuka dua dalam masalah ini.

"Insiden kemarin adalah ekspresi dari ketidaktulusan mereka. Tidak peduli apa yang mereka lakukan, mereka akan diingat untuk hal-hal ini. UE juga melakukan hal yang sama kepada Turki," kata Erdogan.

Senada dengan Erdogan, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu juga mengecam KTT tersebut. Dia mengatakan, para pemimpin Eropa telah bermuka dua karena menghadiri pertemuan puncak di Mesir.

"Ketika kita melihat pemimpin Eropa tidak memiliki nilai, mereka hanya memiliki minat. Eropa jauh dari standar ganda, isu-isu rasisme telah mengikis nilai-nilai Eropa," ujar Cavusoglu.

KTT Uni Eropa-Liga Arab digelar di resor laut Sharm El Sheikh Mesir selama dua hari yakni 24-25 Februari 2019. KTT tersebut dihadiri perwakilan dari 50 negara.

Amnesty International menilai, eksekusi mati anggota Ikhwanul Muslimin dinodai oleh dugaan penyiksaan. Adapun kelompok hak asasi internasional telah meminta Mesir untuk menunda eksekusi itu.

Tapi, Mesir mengabaikan permintaan tersebut. Sementara itu, pada awal bulan ini pihak berwenang Mesir mengeksekusi enam orang dalam dua kasus terpisah, yakni tuduhan atas pembunuhan seorang putra hakim dan perwira polisi senior.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement