Senin 11 Mar 2019 13:25 WIB

Kemenlu Benarkan WNI Jadi Korban Ethiopian Airlines

Perempuan WNI yang jadi korban Ethiopian Airlines bekerja di badan PBB di Roma.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini
Konferensi Pers Juru bicara Kemenlu Arramanatha Nasir soal  korban WNI pada kecelakaan oesawat Ethiopian Airlines, dan pembebsan Siti  Aisyah // Ruang Palapa, Kemenlu, Jakarta, Senin (11/3).
Foto: Republika/Fergi Nadira
Konferensi Pers Juru bicara Kemenlu Arramanatha Nasir soal korban WNI pada kecelakaan oesawat Ethiopian Airlines, dan pembebsan Siti Aisyah // Ruang Palapa, Kemenlu, Jakarta, Senin (11/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia mengonfirmasi warga negara Indonesia (WNI) korban pesawat Ethiopian Airlines merupakan seorang perempuan. Ia diketahui bekerja untuk World Food Program (WFP) pada perserikatan bangsa-bangsa (PBB) di Roma, Italia.

"Dalam informasi yang diterima melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Adis Ababa bahwa adanya satu WNI yang menjadi penumpang di pesawat Ethiopian Airlines," ujar Juru Bicara (Jubir) Kemenlu Arramanatha Nasir di Ruang Palapa Kemenlu, Senin (11/3).

Baca Juga

Arramanatha mengatakan, korban WNI tengah menuju Nairobi dengan beberapa staf WFP lain untuk menghadiri suatu pertemuan di sana. Duta Besar Indonesia di Roma telah bertemu dengan keluarga korban dan menyampaikan belasungkawa serta dukungannya. Dubes juga telah menawarkan bantuan yang diperlukan kepada keluarga korban.

"Selanjutnya KBRI Roma akan terus berkoordinasi dengan KBRI Adis Ababa dan juga dengan kantor WFP di Roma terkait dengan recovery, pemulangan jenazah, dan bantuan lainnya yang dibutuhkan keluarga," ujar Arramanatha.

Hingga kini Kemenlu belum mendapatkan informasi lebih lanjut terkait penemuan jenazah korban WNI pada kecelakaan udara Ethiopian Airlines. Untuk proses evakuasi korban, KBRI Roma dan KBRI Adis Ababa, serta WFP belum mendapatkan informasi perkembangan proses pencarian para korban.

Namun demikian, menurut informasi, KBRI Adis Ababa masih melakukan koordinasi dengan otoritas setempat dan pihak Airlines di Adis Ababa, terkait evakuasi korban. "Menyoal identitas, nama, dan usia Kemenlu menghormati privasi keluarga dan kami masih meminta persetujuan keluarga apakah boleh menyampaikan dan menginformasikan nama korban. Sebab, Kemenlu jarang mengumbar nama korban tanpa izin dari keluarga," ujarnya.

Sementara pihak WFP melalui Sekretari Jenderal WFP dalam rilis pers di website resminya menyampaikan duka cita mendalam bagi para korban kecelakaan udara. Beberapa korban dikonfirmasi bekerja di WFP, termasuk WNI.

"Sekretaris Jenderal sangat terpukul atas hilangnya nyawa yang tragis dalam kecelakaan pesawat hari ini di dekat Addis Ababa. Simpati dan solidaritas yang tulus diberikan kepada keluarga para korban dan orang-orang terkasih, termasuk anggota staf PBB," ujar juru bicara Sekretaris Jendral WFP, Stephane Dujarric.

Sekhen juga menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada Pemerintah dan rakyat Ethiopia. Dia mengatakan, PBB terus berhubungan dengan otoritas Ethiopia dan bekerja sama dengan mereka untuk menetapkan perincian personel PBB yang kehilangan nyawa mereka dalam tragedi ini.

Pesawat milik maskapai Ethiopian Airlines dengan rute penerbangan Adis Ababa-Nairobi jatuh enam menit setelah lepas landas pada Ahad (10/3). Pesawat dengan nomor penerbangan ET-302 itu jatuh di dekat kota Bishoftu atau sejauh 62 kilometer di sebelah tenggara ibu kota Ethiopia, Addis Ababa.

"Pesawat membawa 149 penumpang dan delapan awak di dalamnya," kata juru bicara Ethiopian Airlines kepada Reuters, kemarin.

Kecelakaan itu menggunakan pesawat yang sama seperti insiden kecelakaan penerbangan Lion Air JT-610. Dalam kecelakaan Ethiopian Airlines diperkirakan tidak ada yang selamat dalam kecelakaan tersebut. Pihak maskapai menambahkan, para penumpang berasal dari 35 kebangsaan yang berbeda, di antaranya merupakan 32 warga negara Kenya dan 17 warga negara Etiopia. Media Cina, Global Times juga melaporkan ada delapan warga Cina dalam ET-302.

Menurut keterangan Ethiopian Airlines, pesawat lepas landas sekitar pukul 08.38 pagi waktu setempat. Enam menit kemudian kontak dengan pesawat terputus. Menurut monitor lalu lintas udara Flightradar 24, pesawat itu menunjukkan kecepatan vertikal yang tidak stabil setelah lepas landas. Namun, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan pesawat tersebut jatuh.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement