Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Guaido Ajak Rakyat Venezuela Unjuk Rasa Besar-besaran

Ahad 10 Mar 2019 13:49 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Warga Venezuela memasuki Kolombia dengan menyeberangi jembatan internasional Simon Bolivar dari San Antonio del Tachira, Venezuela, Kamis (21/2). Rakyat Venezuela mengalami kelangkaan makanan dan obat-obatan.

Warga Venezuela memasuki Kolombia dengan menyeberangi jembatan internasional Simon Bolivar dari San Antonio del Tachira, Venezuela, Kamis (21/2). Rakyat Venezuela mengalami kelangkaan makanan dan obat-obatan.

Foto: AP Photo/Rodrigo Abd
Venezuela tengah mengalami pemadaman listrik terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Ketua oposisi Venezuela Juan Guaido mengajak pendukung dan rakyat Venezuela untuk melakukan unjuk rasa besar-besaran di Caracas. Demonstrasi ini dilakukan untuk memprotes larangan masuknya obat-obatan yang dilakukan pemerintah Presiden Nicolas Maduro.

Saat ini Venezuela tengah mengalami pemadaman listrik terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Di depan para pendukungnya di Caracas, Guaido yang mendeklarasikan diri sebagai presiden mengajak rakyat Venezuela untuk melakukan unjuk rasa massal.

"Pemerintah Maduro tidak akan memiliki solusi atas krisis pemadaman listrik yang mereka ciptakan sendiri, semua rakyat Venezuela, mari pergi ke Caracas," kata Guaido, Ahad (10/3).

Guaido tidak menjelaskan kapan unjuk rasa tersebut akan digelar. Dalam unjuk rasa Guaido dan para pendukungnya kerap bentrok dengan polisi dan tentara.

Baca Juga

Demonstrasi itu akan menambah tekanan terhadap pemerintah Maduro di tengah pemadaman listrik yang menurut Partai Sosialis Venuzuela sebagai ulah Amerika Serikat (AS).  "Hari-hari ke depan akan sulit, terimakasih untuk rezim berkuasa," kata Guaido.

Menurut pemerintah Maduro pemadaman listrik terjadi karena ada sabotase AS. Tapi menurut oposisi pemadaman itu sebagai hasil dari pemerintahan yang tidak dikelola dengan benar dan korupsi yang terjadi selama dua puluh tahun lebih.

Puluhan pengunjuk rasa pro-Guaido berusaha berjalan di tengah jalan tapi mereka dipaksa untuk berjalan di trotoar oleh polisi yang berpakaian anti huru-hara.

Demonstran lantas meneriaki polisi dan mendorong barisan polisi antihuru-hara tersebut. Stasiun televisi setempat melaporkan ada seorang perempuan yang disemprot bubuk cabai.

Salah satu saksi mata mengatakan pada Sabtu (9/3) listrik mati-hidup di sebagian Caracas. Di stasiun televisi lokal Wakil Presiden Partai Sosialis Diosdado Cabello mengatakan enam dari 23 negara bagian Venezuela masih kekurangan pasokan listrik.

"Kami marah kami tidak memiliki listrik, tidak ada sinyal telpon, tidak ada air dan mereka ingin memblokir kami, saya ingin negara yang normal," kata salah satu pengunjuk rasa Rossmary Nascimiento yang berprofesi sebagai ahli nutrisi.

Partai Sosialis Venezuela menggelar unjuk rasa tandingan. Mereka memprotes apa yang disebut sebagai imperalisme AS. Maduro menyalahkan AS atas pemadaman ini.
"Sayap kanan, bersama dengan imperialis, telah menusuk sistem listrik, dan kami mencoba untuk segera menyembuhkannya," kata Maduro.

Di media sosial Twitter, seorang dokter dan anggota organisasi yang bernama Doctors For Health Julio Castro mengatakan 17 orang meninggal dunia selama pemadaman listrik. Termasuk sembilan orang di ruang unit gawat darurat.

Belum diketahui kebenaran tentang hal tersebut atau apakah kematian para pasien disebabkan pemadaman listrik. Kementerian Informasi Venezuela tidak menanggapi permintaan komentar tentang hal ini. 

Klinik negara bagian Zulia yang panas mengalami pemadaman listrik yang paling parah. Mereka mengurangi jam operasi mereka setelah mengalami pemadaman listrik hampir 72 jam.

"Kami tidak menawarkan pelayanan dan kami tidak memiliki pasien tinggal karena generator tidak berfungsi," kata kepada adminstrasi klinik San Lucas, Chiquinquira Caldera.

Sambil menunggu listrik kembali hidup Caldera bermain mahyong dengan para dokter. Venezuela yang mengalami hiperinflansi dan kekurangan pasokan kebutuhan dasar telah diterpa gejolak politik sejak Guaido mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara pada bulan Januari lalu.

Ia menuduh Maduro curang dalam pemilihan umum 2018 lalu yang membuatnya melanjutkan kekuasaannya di periode kedua. Sementara itu Maduro mengatakan Guaido hanyalah boneka AS sebagai upaya Presiden AS Donald Trump menguasai minyak Venezuela. 


sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA