Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Solidaritas Warga Selandia Baru Usai Tragedi Christchurch

Ahad 17 Mar 2019 03:51 WIB

Rep: Umi Soliha/ Red: Andri Saubani

Teror Masjid Christchurch. Bunga dan tribut lain diletakkan di luar Islamic Center di Kilbirnie, Wellington, Selandia Baru, Sabtu (16/3).

Teror Masjid Christchurch. Bunga dan tribut lain diletakkan di luar Islamic Center di Kilbirnie, Wellington, Selandia Baru, Sabtu (16/3).

Foto: New Zealand Herald via AP
49 orang dilaporkan tewas dalam penembakan di sebuah masjid di Kota Christchurch.

REPUBLIKA.CO.ID, CHRISTCHURCH -- Masyarakat Selandia Baru menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi kepada Muslim setempat setelah insiden penembakan massal di dua Masjid Kota Christchurch. Mereka memberikan dukungan dalam berbagai macam bentuk, seperti sumbangan dana,  sumbangan makana halal dan menawarkan diri untuk menemani Muslim yang kini takut berjalan sendirian di jalanan.

Seperti dilansir dari Aljazirah, Sabtu (16/3), Aksi teror yang menewaskan 49 orang saat mengelar shalat jumat itu sangat menguncang perasaan masyarakat Selandia Baru.  Rata–rata kasus dalam setahun tidak lebih dari 50 pembunuhan terjadi di Selandia Baru. Ini membuktikan, selama ini masyarakat Selandia Baru hidup dengan damai di tengah keberagaman. 

Menanggapi serangan tersebut, masyarakat Selandia Baru memberikan dukungan dan kehangatan kepada Muslim setempat yang sedang dilanda kesedihan mendalam. Warga Christchurch, Yoti Ioannou dan istrinya mengunggah tulisan di Facebook, yang berisi ajakan kepada masyarakat Christchurch untuk menyumbang makanan halal.

Gagasan mereka adalah menyediakan makanan halal bagi puluhan kerabat yang menunggu kabar orang-orang yang mereka cintai di rumah sakit setempat. Hingga saat ini, ada sekitar 39 orang masih menjalani perawatan medis dengan 11 orang di antaranya dirawat secara intensif.

Warga menyambut sangat luar bisa  ajakan tersebut.  Warga Christchurch membanjiri truk–truk yang menjual makanan halal dan mereka mengantre untuk memberikan makanan halal kepada keluarga–keluarga korban. "Kami benar-benar merasa terhormat dan senang membantu. Kami akan berusaha menjaga hal-hal  ini tetap berlangsung dengan dukungan untuk membantu Muslim," ujar Loannou.

Loannou mengatakan, ada begitu banyak sumbangan makanan yang datang. Sehingga, ia harus mengunggah kembali  tulisan untuk memberitahukan kepada  warga jika sumbangan makanan sudah cukup.

"Orang-orang Christchurch, kita biasa saling membantu (ia merujuk pada gempa bumi 2011 yang menewaskan lebih dari 180 orang) dan ini sudah menjadi kebiasaan kami sekarang dan saya sangat senang warga berbondong–bondong datang untuk membantu hari ini,” ujar Loannou.

Di seluruh negeri, warga Selandia Baru melakukan penggalangan dana untuk korban. Dua kampanye pengalangan dana  yang paling terkenal  telah berhasil mengumpulkan dana lebih dari  3,2 juta dolar Selandia Baru atau setara Rp 30,8 miliar dalam waktu 24 jam setelah penembakan.

Banyak dari penyumbang  memberikan  pesan menggunakan istilah Maori yang populer. "Kia kaha untuk semua warga Selandia Baru, cinta untuk semua keluarga yang terkena korban,"  bunyi salah satu pesan  dari donatur menggunakan istilah Maori yang berarti  ‘tetap kuat’.

Warga lainnya mengajukan tawaran bantuan dan dukungan untuk Muslim lokal yang mungkin merasa takut meninggalkan rumah mereka. Salah satu pos Facebook warga asli Wellington, Lianess Howard yang viral.

 "Jika ada wanita Muslim di Wellington yang merasa tidak aman sekarang. Saya akan berjalan bersama Anda, menunggu di halte bus bersama Anda, saya akan duduk di bus bersama Anda  atau berjalan bersama Anda saat Anda belanja kebutuhan sehari–hari," kata Lianess dalam unggahannya yang telah dibagikan sebanyak 16 ribu kali.

Warga–warga lain, menunjukkan dukungan dengan mendatangi langsung lokasi teror. Wendy dan Andy Johnson salah satu warga yang mendatangi lokasi. Mereka membawa potongan pakis perak, simbol nasional Selandia Baru, dan meletakan pakis perak diantara karangan bunga disana.

"Kami memotong pakis perak dari kebun kami  agar semua komunitas Muslim tahu bahwa hati kami hancur bersama mereka hari ini dan kami mendukung mereka dalam solidaritas. Komunitas muslim benar-benar berhak  untuk beribadah seperti yang mereka inginkan di kota kita tanpa penghakiman atau pembunuhan. Ini sangat mengerikan hal ini bisa  terjadi di kota kami," kata Wendy Johnson kepada media lokal, StuffNZ.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA