Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Erdogan Galang Dukungan dengan Video Serangan Selandia Baru

Selasa 19 Mar 2019 14:09 WIB

Rep: Umi Soliha/ Red: Nur Aini

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat meresmikan bandara baru di Turki, Senin (29/10).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat meresmikan bandara baru di Turki, Senin (29/10).

Foto: AP Photo/Emrah Gurel
Erdogan menggunakan video serangan Selandia Baru yang telah diedit.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Perusahaan media sosial telah bekerja untuk menghapus video serangan masjid Selandia Baru, yang disiarkan langsung oleh penyerang. Namun, rekaman itu telah muncul di tempat yang berbeda dalam beberapa hari terakhir yakni di pemilihan umum presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Pada rapat umum yang disiarkan televisi di Antalya, di Turki selatan, pada Ahad (17/3) dan dua kali sehari sebelumnya , Erdogan menggunakan versi video yang telah diedit untuk menggalang dukungan di kalangan pengikut Islamisnya menjelang pemilihan lokal pada akhir bulan dan mengkritik Oposisi Turki yang lemah.

Penyerang, yang diidentifikasi sebagai Brenton Tarrant (28 tahun), warga negara Australia, mengunggah manifesto yang panjang sebelum serangan yang mengatakan, antara lain, bahwa umat Islam harus diusir dari bagian Turki yang terletak di sebelah barat Bosporus.

Dilaporkan dari New York Times, Selasa (19/3), Erdogan memainkan potongan-potongan video dengan gambar buram serangan itu di beberapa demonstrasi pemilihan. Ia memasangkannya dengan pernyataan pemimpin oposisi Turki untuk menyamakan lawannya dengan senator Australia yang terkenal, Fraser Anning, yang menyalahkan imigrasi Muslim atas serangan itu.

"Kita telah belajar banyak melalui sesuatu yang terjadi di Selandia Baru, bukan? Seorang politisi yang buruk di luar sana mengatakan sesuatu. Apa yang dia katakan? Dia menganggap Islam bertanggung jawab atas teror, ” kata Erdogan saat ia mempresentasikan video. 

Winston Peters, menteri luar negeri Selandia Baru, mengatakan dia telah berbicara dengan para pejabat Turki pada Ahad, mengungkapkan kekhawatiran atas penggunaan video tersebut.

 “Sesuatu yang sifatnya keliru mewakili negara ini, mengingat ini adalah warga negara bukan Selandia Baru, membahayakan masa depan dan keselamatan rakyat Selandia Baru dan rakyat kita di luar negeri. Dan itu sama sekali tidak adil," katanya.

Pada Ahad, Facebook mengatakan telah menghapus 1,5 juta video dari serangan yang telah diposting di seluruh dunia, termasuk 1,2 juta yang diblokir saat diunggah. Perusahaan itu mengatakan juga menghapus versi video yang diedit yang tidak menampilkan konten grafis.

Tetapi Erdogan, yang berkampanye untuk Partai Keadilan dan Pembangunannya dalam aksi harian, telah menggunakan serangan itu untuk membangkitkan perasaan pemilihnya. Pada Jumat, dia mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan salah satu dari tiga warga Turki yang terluka dalam serangan Christchurch dan mengutuk pelaku. Dia menyebut pelaku sebagai pembunuh keji dan mengatakan dia telah mengancam kekerasan dalam manifestonya khususnya terhadap Turki, penduduknya, dan pemimpinnya.

"Bersama dengan semua Muslim, negara kami, dan saya menjadi sasaran. Kita seharusnya tidak pergi ke barat Bosporus, yang berarti Eropa. Kalau tidak, dia akan datang ke Istanbul, membunuh kita semua, mengusir kita dari tanah kita. " kata Erdogan di sebuah rapat umum di kota selatan Gaziantep.

Warga Turki akan menggunakan hak suaranya pada 31 Maret untuk pemilihan kota. Sembilan bulan lalu, mereka tidak hanya memilih kembali Erdogan sebagai presiden tetapi juga menyetujui perubahan konstitusi yang memberinya kekuasaan baru, mengubah sistem parlementer negara menjadi sistem presidensial.

Meskipun Erdogan tetap populer, ia merasakan tekanan ekonomi resesi dan keruntuhan mata uang yang telah memotong standar hidup orang Turki. Meski demikian, keseluruhan kisah sukses ekonomi Turki telah memberikan fondasi yang kuat bagi Erdogan selama 17 tahun masa pemerintahannya sebagai perdana menteri dan sekarang menjadi presiden.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA