Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Ulama Senior Australia Ditolak Masuk Selandia Baru

Selasa 19 Mar 2019 15:49 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nur Aini

Warga berdoa untuk para korban penembakan di dekat Masjid Linwood di Christchurch, Selandia Baru, Selasa (19 /3/ 2019).

Warga berdoa untuk para korban penembakan di dekat Masjid Linwood di Christchurch, Selandia Baru, Selasa (19 /3/ 2019).

Foto: AP/Mark Baker
Larangan dari Selandia Baru dibatalkan setelah muncul keluhan pemerintah Australia.

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Salah satu ulama Muslim paling senior di Australia, Sheikh Shady Alsuleiman, ditolak masuk ke Selandia Baru setelah pembantaian Christchurch. Namun, larangan itu dibatalkan setelah ada keluhan kepada pemerintah Australia.

"Saya terkejut. Sangat menyedihkan melihat sesuatu seperti ini terjadi, terutama selama masa tantangan dan kesulitan ini," katanya dilansir dari laman Sydney Morning Herald, Selasa (19/3).

Penolakan itu menimbulkan pertanyaan tentang, mengapa syekh masuk dalam daftar larangan terbang Selandia Baru. Hal itu terutama karena tuduhan bahwa badan keamanan Australia, dan mitra internasional terlalu fokus pada ekstremisme Islam, dibandingkan dengan terorisme sayap kanan.

Sebagai presiden Dewan Imam Nasional Australia, Sheikh Shady menyarankan pemerintah tentang masalah-masalah Islam utama. Dia juga telah ditempatkan pada daftar sasaran ISIS, yang menyerukan pembunuhannya.

Dia dijadwalkan terbang ke Christchurch pada Senin untuk membantu komunitas Islam, untuk menguburkan 50 korban penembakan massal. Namun, Sheikh Shady mengungkapkan, dia diperintahkan oleh otoritas Selandia Baru untuk tidak pergi ke bandara, karena dia tidak akan diizinkan untuk bepergian tanpa visa khusus.

Sheikh Shady mengatakan, ia mengatakan masalah tersebut dengan pejabat pemerintah Australia di dalam departemen Dalam Negeri. Dia kemudian diberikan visa khusus dalam waktu 24 jam pada Selasa.

Pada 2016, Sheikh Shady secara luas dikutuk karena pandangannya tentang homoseksualitas. Sebelumnya sebuah video muncul di mana ia mengatakan homoseksualitas bertanggung jawab untuk menyebarkan semua penyakit.

Itu terjadi setelah syekh menghadiri makan malam berbuka puasa di Kirribilli House sebagai tamu perdana menteri saat itu, Malcolm Turnbull. Turnbull mengecam pandangannya sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.

Undang-undang yang diperkenalkan oleh Denmark pada April tahun lalu melarang beberapa pengkhotbah, termasuk Sheikh Shady, memasuki negara itu. Denmark juga melarang perempuan mengenakan burqa di depan umum.

Imigrasi Selandia Baru mengonfirmasi Sheikh Shady ditolak masuk ke negara itu, karena larangan yang dikenakan kepadanya oleh Denmark tahun lalu.

"(Selandia Baru) dapat mengkonfirmasikan bahwa Alsuleiman dinasihati bahwa ia tidak dapat melakukan perjalanan ke Selandia Baru dengan bebas visa karena dikeluarkan dari Denmark," kata manajer perbatasan nasional Stephanie Greathead.

"Karena pengecualian dia membutuhkan apa yang dikenal sebagai arahan khusus yang memungkinkan visa diberikan. Dengan mempertimbangkan semua keadaan, Tuan Alsuleiman sekarang telah diberikan arahan khusus dan visa pengunjung satu bulan," ujarnya. Greathead mengatakan, ia tidak dapat berkomentar lebih lanjut karena alasan hukum, dan privasi.

Seorang juru bicara Perdana Menteri Australia, Scott Morrison menolak berkomentar. Juru bicara Dewan Imam Bilal Rauf mengatakan, tekanan apa pun atas Selandia Baru dari pejabat Australia datang melalui departemen dan bukan dari Morrison, atau Menteri Imigrasi David Coleman.

"Kami tidak mengerti alasan mengapa ia dimasukkan dalam daftar. Itu adalah sesuatu yang akan ditanyakan oleh Sheikh Shady dan dicari untuk diatasi," katanya.

Syekh sekarang berencana untuk melakukan perjalanan ke Selandia Baru pada Rabu. Ia mengatakan, dirinya tidak akan membuat asumsi tentang mengapa dia ditempatkan pada daftar larangan terbang.

"Sangat disayangkan melihat bahwa kadang-kadang, masalah penyaringan tidak dilakukan dengan benar," ucap Alsuleiman.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA