Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Video Asli Live Penembakan Christchurch Ditonton 4.000 Kali

Rabu 20 Mar 2019 07:31 WIB

Red: Ani Nursalikah

 Seorang warga mengambil gambar lilin untuk mengenang korban penembakan di luar Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, Senin (18/3/2019).

Seorang warga mengambil gambar lilin untuk mengenang korban penembakan di luar Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, Senin (18/3/2019).

Foto: AP/Vincent Thian
Laporan pengguna pertama dari video itu muncul 12 menit setelah video berakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Video siaran langsung asli serangan Christchurch pekan lalu lalu ditonton 4.000 kali sebelum dihapus. Jumat lalu, seorang pria bersenjata menyiarkan langsung penembakan di Masjid Al Noor selama 17 menit.

Penembakan terjadi di dua masjid. Tragedi itu menewaskan 50 orang.

Dilansir di BBC, Selasa (19/3), Facebook mengatakan kurang dari 200 orang telah menontonnya secara langsung. Laporan pengguna pertama dari video itu muncul 12 menit setelah video berakhir.

Tetapi pada saat itu salinan video telah berada di situs berbagi file 8chan. Setelah diperingatkan soal video tersebut, Facebook menghapus yang asli dan memotongnya. Pada dasarnya membuat sidik jari digital yang berarti materi yang tampak mirip dengan aslinya dapat dideteksi dan dihapus secara otomatis.

Dan dalam 24 jam, Facebook telah memblokir 1,2 juta salinan saat diunggah dan menghapus 300 ribu lainnya. Namun, salinan yang telah diedit atau direkam dari layar terbukti lebih sulit dikenali.

Facebook sedang bekerja dengan Polisi Selandia Baru dalam penyelidikannya. "Kami terus bekerja sepanjang waktu untuk mencegah konten ini muncul di situs kami, menggunakan kombinasi teknologi dan orang-orang," tulis wakil presiden Facebook Chris Sonderby dalam pembaruan yang diunggah di Facebook.

Setelah penembakan itu, beberapa pemimpin dunia telah meminta perusahaan media sosial mengambil lebih banyak tanggung jawab atas materi ekstremis yang diposting di platform mereka. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan jejaring sosial adalah penerbit bukan hanya tukang pos, mengacu pada potensi pertanggungjawaban mereka atas materi yang dibagikan pada mereka.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA