Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Arab Saudi Kecam Donald Trump Akui Golan Wilayah Israel

Selasa 26 Mar 2019 16:17 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Presiden AS, Donald Trump menandatangani dokumen pengakuan atas Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah Israel

Presiden AS, Donald Trump menandatangani dokumen pengakuan atas Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah Israel

Foto: AP
Pencaplokan Golan oleh Israel akan memiliki efek negatif pada perdamaian Timteng.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO --  Arab Saudi mengecam pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas pencaplokan Datarang Tinggi Golan oleh Israel. Pernyataan itu diterbitkan Saudi Press Agency.

Baca Juga

Dalam pernyataan tersebut, Arab Saudi menilai, pencaplokan Dataran Tinggi Golan oleh Israel akan memiliki efek negatif yang signifikan pada proses perdamaian di Timur Tengah, serta keamanan dan stabilitas kawasan. Menurut Saudi, Golan merupakan bagian dari tanah Arab Suriah.

"Upaya untuk memberlakukan fait accompli tidak mengubah fakta. Golan adalah tanah Arab Suriah yang diduduki sesuai dengan resolusi internasional yang relevan," ujar pernyataan Arab Saudi, Selasa (25/3).

Pada Kamis pekan lalu, Trump mengatakan, setelah 52 tahun berlalu, kini tiba waktunya bagi AS untuk mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Dia mengklaim hal itu penting dilakukan untuk keamanan Israel dan stabilitas di kawasan.

Hal itu seketika menuai banyak kecaman dan protes, tidak hanya dari negara-negara Arab, tapi juga Eropa, seperti Prancis dan Jerman. Mereka menilai langkah Trump melanggar ketentuan resolusi dan hukum internasional.

Dataran Tinggi Golan direbut Israel dari Suriah setelah berakhirnya Perang Arab-Israel pada Juni 1967. Sekitar dua pertiga Dataran Tinggi Golan tetap di bawah kendali Israel setelah Perang Yom Kippur pada 1973.

Pada 1981, pemerintahan Menachem Begin menerbitkan Golan Heights Law yang secara efektif mencaplok Golan sebagai bagian dari kekuasaan Israel. PBB dan negara-negara besar dunia, termasuk Rusia dan Uni Eropa menolak mengakui pencaplokan tersebut hingga saat ini.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA