Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

New York Larang Anak-Anak tak Divaksin Berada di Area Publik

Rabu 27 Mar 2019 11:35 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas medis memperlihatkan botol berisi vaksin campak.

Petugas medis memperlihatkan botol berisi vaksin campak.

Foto: EPA
Campak sedang meluas di negara bagian AS.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Kota New York melarang anak-anak yang tidak divaksin bermain di area publik. Hal ini sebagai upaya untuk pencegahan wabah campak yang semakin meluas di sejumlah negara bagian Amerika Serikat (AS).

Wilayah Rockland, yang terletak lima mil barat laut Kota New York mengumumkan larangan tersebut setelah mencatat terjadinya 153 kasus campak sejak Oktober 2018. Rockland melarang warga yang berusia di bawah 18 tahun yang tidak divaksinasi campak berada di tempat-tempat umum selama 30 hari.

Gubernur negara bagian Washington, Jay Inslee menyatakan keadaan darurat wabah campak. Sementara, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan, kasus wabah campak telah ditemukan di Texas, Illinois, California, dan New York pada awal 2019.

"Ini adalah krisis kesehatan masyarakat  dan sekarang saatnya untuk membunyikan alarm, dan mengambil tindakan yang sesuai," ujar pejabat eksekutif daerah Rockland, Ed Day dilansir The Guardian, Rabu (27/3).

Sebelumnya, pemerintah Rockland melarang anak-anak yang tidak divaksinasi datang ke sekolah-sekolah. Namun ketentuan baru tersebut dinilai merupakan langkah yang paling agresif. Day mengatakan, warga yang melanggar perintah tersebut akan dilaporkan ke kantor kejaksaan.

"Orang tua akan dimintai pertanggungjawaban jika mereka terbukti melanggar keadaan darurat. Fokus dari upaya kita ini adalah kepada orang tua, dan kami mendesak agar anak-anak mereka divaksinasi," kata Day.

Day mengatakan, otoritas setempat telah melacak wabah campak ke tujuh pendatang yang mengunjungi Rockland pada 2018. Pada 2019, Rockland mencatat terdapat 48 kasus campak.

Menurut CDC, anak-anak paling berisiko terkena campak. Sebanyak satu dari setiap 20 anak yang terinfeksi campak akan tertular pneumonia, sementara satu dari 1.000 anak akan meninggal karena virus. Komplikasi lainnya termasuk pembengkakan otak, yang dapat menyebabkan tuli atau cacat. Wanita hamil yang tidak divaksinasi juga dianggap berisiko tinggi terkena campak. dan dapat menyebabkan kelahiran prematur.

Berdasarkan data CDC, dari 1 Januari hingga 21 Maret 2019, terdapat 314 kasus campak di 15 negara bagian yang berbeda. Sementara pada periode yang sama di 2018 terdapat 372 kasus. Peningkatan ini telah dikaitkan dengan kelompok anti-vaxxers yang menyatakan bahwa vaksin memiliki efek negatif.

CDC menyatakan kasus-kasus di Negara Bagian New York, Kota New York dan New Jersey terjadi di antara orang-orang yang tidak divaksinasi dalam komunitas Yahudi Ortodoks. Sementara kasus-kasus campak lainnya terkait dengan para pendatang yang membawa wabah tersebut. Beberapa pendatang tersebut berasal dari Israel dan Ukraina.

"Delapan puluh dua orang membawa campak ke AS dari negara lain pada 2018. Ini adalah kasus terbesar sejak campak dihilangkan dari AS pada tahun 2000," kata CDC dalam pernyataannya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA