Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selandia Baru Gelar Peringatan Nasional Teror Christchurch

Jumat 29 Mar 2019 09:01 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nur Aini

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Haley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Haley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

Foto: AP Photo/Mark Baker
PM Selandia Baru mengajak semua orang lebih toleran.

REPUBLIKA.CO.ID, CHRISTCHURCH -- Ribuan orang hadir dan diam di taman Christchucrh saat nama-nama 50 orang yang ditembak mati disebutkan dalam upacara peringatan nasional, Jumat (29/3). Para pembicara menyerukan Selandia Baru akan lebih toleran setelah insiden penembakan.

"Tantangan kami sekarang adalah melakukan yang terbaik dalam realitas sehari-hari. Karena kita tidak kebal terhadap virus kebencian, dari ketakutan, dan yang lain," ucap Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern.

Belasan perwakilan pemerintah dari seluruh dunia bergabung dengan Ardern di layanan peringatan di Hagley Park, dekat masjid Al Noor. Di masjid tersebut lebih dari 40 korban tewas dari seorang supremasi kulit putih selama shalat Jumat pada 15 Maret

"Tapi kita bisa menjadi bangsa yang menemukan penawarnya. Dan masing-masing dari kita saat pergi dari sini kita memiliki pekerjaan yang harus dilakukan," ujar Ardern.

Ardern menyerukan, dunia harus mengakhiri lingkaran ekstremisme dan membutuhkan upaya secara global.

"Jawabannya terletak pada konsep sederhana yang tidak terikat oleh perbatasan domestik, yang tidak didasarkan pada etnis, basis kekuatan, atau bahkan bentuk pemerintahan. Jawabannya ada pada kemanusiaan kita," kata Ardern.

Selama peringatan berlangsung, pengamanan ketat diterapkan untuk tetap waspada. Komisaris polisi, Mike Bush mengatakan, itu adalah salah satu keamanan terbesar yang pernah dilakukan polisi.

Salah satu keluarga korban, Farid Ahmed, yang istrinya terbunuh mengatakan pada banyak orang, sebagai orang yang beriman ia telah mengampuni pembunuh istrinya. Sebab, ia tidak ingin memiliki hati yang penuh dengan kebencian.

"Saya ingin hati yang penuh cinta dan perhatian, penuh belas kasih dan mudah memaafkan, karena hati ini tidak ingin ada lagi nyawa yang hilang," kata dia.

Ahmed menyebutkan, orang-orang harus bekerja sama demi terciptanya perdamaian, dan mengubah sikap untuk melihat semua sebagai satu keluarga.

"Saya mungkin berasal dari satu budaya, Anda mungkin berasal dari budaya lain. Saya mungkin memiliki satu keyakinan, Anda mungkin memiliki satu keyakinan, tetapi bersama-sama kita adalah (ibarat) taman yang indah," ungkap Ahmed.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA