Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Presiden Korsel akan Temui Donald Trump Bahas Korut

Jumat 29 Mar 2019 10:00 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Presiden Korsel Moon Jae-in saat upacara penyambutan di Istana biru di Seoul, Selasa (7/11).

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Presiden Korsel Moon Jae-in saat upacara penyambutan di Istana biru di Seoul, Selasa (7/11).

Foto: Kim Hong-ji/Pool Photo via AP
Pertemuan Moon Jae-in dan Donald Trump akan membahas denuklirisasi Korut.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in akan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Washington pada 11 April 2019. Kantor Kepresidenan Cheong Wa Dae menyatakan, pertemuan antara Moon dan Trump dilakukan di tengah kebuntuan pembicaraan nuklir antara AS dan Korea Utara (Korut) beberapa waktu lalu.

Moon akan tiba di AS pada 10 April 2019. Pertemuan tersebut akan menjadi yang pertama sejak pertemuan puncak antara Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un di Hanoi.

"Para pemimpin akan melakukan pembicaraan mendalam untuk membahas upaya memperkuat aliansi Seoul-Washington, dan untuk mengkoordinasikan sikap mereka dalam membentuk rezim perdamaian di Semenanjung Korea melalui denuklirisasi," ujar Sekretaris Senior untuk Hubungan Masyarakat, Yoon Do-han dilansir Korea Times, Jumat (29/3).

Pertemuan puncak antara Kim dan Trump di Hanoi beberapa waktu lalu berakhir tanpa kesepakatan, karena perbedaan pada lingkup denuklirisasi. AS mengatakan, Korut menuntut pencabutan sanksi secara keseluruhan sebagai imbalan atas tawarannya untuk membongkar kompleks nuklir utama Yongbyon.

Sementara, Washington menginginkan denuklirisasi di bidang lain, termasuk fasilitas pengayaan uranium yang disembunyikan Korut di tempat lain. Namun, Korut mengklaim mereka hanya menuntut pelonggaran sebagian sanksi yang terkait dengan mata pencaharian masyarakat. Korut menyatakan, AS telah menekan mereka untuk melakukan hal lain selain menghapus fasilitas Yongbyon.

AS menyatakan, pihaknya tetap terbuka untuk berdialog dengan Korut meskipun tidak ada kesepakatan dalam pertemuan puncak di Hanoi. Selain itu, AS juga akan mengusahakan pembicaraan denuklirisasi dan tetap mempertahankan sanksi terhadap Korut.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA