Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

AS dan Cina Bertemu Negosiasikan Perang Dagang

Jumat 29 Mar 2019 18:35 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Ani Nursalikah

Pertemuan perwakilan Amerika Serikat dengan Wakil Perdana Menteri Cina Liu He di Beijing membahas kesepakatan terkait perdagangan kedua negara.

Pertemuan perwakilan Amerika Serikat dengan Wakil Perdana Menteri Cina Liu He di Beijing membahas kesepakatan terkait perdagangan kedua negara.

Foto: AP
Pertemuan dimaksudkan mengakhiri konflik yang mengganggu perdagangan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Negosiator perdagangan dari Cina dan AS memulai kembali pembicaraan pada Jumat (29/3) untuk mencoba menyelesaikan sengketa tarif mereka mengenai ambisi Cina untuk mendominasi teknologi yang berkembang. Perwakilan kedua negara berpose untuk foto di sebuah wisma tamu pemerintah di Beijing barat, namun tidak memberikan komentar tentang keadaan negosiasi di depan wartawan.

Presiden AS Donald Trump menyatakan optimisme tentang perundingan pekan lalu. "Kami semakin dekat," kata Trump.

Kepala utusan Amerika, Perwakilan Dagang Robert Lighthizer mengatakan minggu ini pertanyaan tentang perincian dan penegakan (sanksi) masih harus dijawab. Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menghadiri jamuan makan malam, Kamis (28/3) malam dengan rekannya dari Cina, Wakil Perdana Menteri Liu He, yang akan melakukan perjalanan ke Washington minggu depan. Pembicaraan dijadwalkan berlangsung sepanjang Jumat.

Pertemuan tersebut adalah yang terbaru dari serangkaian negosiasi yang berupaya mengakhiri konflik yang mengganggu perdagangan barang mulai dari kedelai hingga peralatan medis. "Kedua tim saat ini berusaha keras dalam perundingan," kata juru bicara kementerian perdagangan Cina Gao Feng selama rapat yang dijadwalkan secara teratur, Jumat (29/3).

Meskipun kurangnya kesepakatan yang diumumkan, analis perdagangan memperkirakan setidaknya kesepakatan awal dalam beberapa minggu atau bulan mendatang. Namun, mereka mengatakan negosiasi tidak mungkin untuk menyelesaikan konflik yang telah mengganggu hubungan AS-Cina selama dua dekade. Poin-poin utama termasuk surplus perdagangan besar-besaran Cina dengan AS dan tuduhan Cina telah mencuri atau memaksa transfer teknologi asing untuk penggunaannya sendiri.

Perselisihan terbaru meletus setelah Trump menaikkan bea impor Cina tahun lalu, sebagai tanggapan atas keluhan atas teknologi dan memicu kekhawatiran pertempuran antara dua ekonomi terbesar akan mendinginkan pertumbuhan global yang sudah menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Sebuah batu sandungan tampaknya adalah desakan Washington pada mekanisme penegakan hukum dengan penalti jika Beijing gagal menindaklanjuti komitmen.

Trump juga mengangkat hambatan potensial lain pekan lalu, dengan mengatakan ia ingin tetap mengenakan pajak 25 persen atas 50 miliar dolar AS barang-barang Cina yang dikenakan tahun lalu. "Kita membutuhkan itu," kata Trump.

Washington pada September menindaklanjuti dengan bea masuk 10 persen dengan tambahan 200 miliar dolar AS. Tarif AS mencakup kira-kira setengah dari apa yang dibeli AS dari Cina.

Namun, Trump menunda kenaikan tarif lain pada 1 Maret, dalam langkah yang mungkin telah mengurangi pengaruh AS dalam mencari konsesi Cina. "Beijing tidak sangat terburu-buru selama Washington menunda memberlakukan tarif tambahan," kata Bryan Mercurio, seorang spesialis hukum perdagangan di Chinese University of Hong Kong.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA