Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Koalisi Erdogan Terimpit di Pemilu Lokal Turki

Senin 01 Apr 2019 12:33 WIB

Rep: Muhammad Riza Wahyu Pratama/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Turki dan pemimpin Partai AKP Turki Recep Tayyip Erdogan dan istrinya Emine menyapa pendukung usai pengumuman hasil pemilu lokal di Ankara, Turki, Senin (1/4).

Presiden Turki dan pemimpin Partai AKP Turki Recep Tayyip Erdogan dan istrinya Emine menyapa pendukung usai pengumuman hasil pemilu lokal di Ankara, Turki, Senin (1/4).

Foto: AP Photo/Ali Unal
Berdasarkan hasil sementara, aliansi oposisi akan menang pemilu lokal di Istanbul.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Partai penguasa sekaligus Partai Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan AK Party (AKP) terimpit dalam persaingan pemilu di Istanbul, kota terbesar di negara itu. Berdasarkan hasil sementara, aliansi oposisi tampak akan memenangkan pemilu lokal di kota tersebut.

Dari 99 persen suara yang masuk, kandidat dari People's Alliance Erdogan, Binali Yildirim memimpin dengan 48,7 persen suara. Menurut Anadolu, Ahad (31/3). Dikutip dari Aljazirah, Senin (1/4), kandidat oposisi dari Republican People's Party (CHP), Ekrem Imamoglu, mengantongi 48,6 persen suara,

Di Ankara, dari 92 persen data yang masuk. Hasil awal menunjukkan, kandidat dari People's Alliance Mehmet Ozhaseki mendapatkan 47,2 persen suara. Sedangkan kandidat Nation Alliance, Mansur Yavas mendapatkan 50,6 persen.

Di kota terbesar ketiga, Izmir, kandidat dari koalisi Erdogan, Nihat Zeybekci mendapatkan 38,5 persen suara. Sedangkan kandidat dari Nation Alliance, Mustafa Tunc Soyer memimpin dengan 58,1 persen suara.

Secara nasional, dari 91,7 persen suara pemilu daerah yang sudah dihitung, People's Alliance yang merupakan gabungan dari AK Party (Adalet ve Kalkinma Partisi) dan Nationalist Movement Party (Milliyetci Hareket Partisi (MHP)) mendapatkan 51,7 persen suara.

Kemudian diikuti oleh Nation Alliance, sebuah koalisi yang dibentuk oleh kelompok tengah-kiri, Republican People's Party (Cumhuriyet Halk Partisi (CHP)) dan partai sayap kanan, Good Party (Iyi Party), dengan perolehan 37,6 persen suara.

Hasil penghitungan awal tersebut merupakan tantangan bagi Erdogan, mengingat latar belakang soal tingginya inflasi dan meningkatnya pengangguran yang dipicu krisis mata uang tahun lalu. Berbicara dalam sebuah konferensi pers di Istanbul, Ahad (31/3). Erdogan mengakui partainya kehilangan kendali di beberapa kota. Erdogan mengatakan akan fokus pada reformasi ekonomi.

Erdogan, presiden eksekutif pertama Turki yang terpilih tahun lalu mengatakan, pemilu berikutnya akan diadakan Juni 2023. Ia menambahkan, Turki akan mengimplementasikan program ekonomi kuat, tanpa kompromi dengan aturan pasar bebas.

Seorang analis politik Turki, Murat Yetkin, mengatakan kepada Aljazirah, jika aliansi milik Erdogan, AKP dan MHP kalah di Istanbul, termasuk pula Ankara. Hal itu berarti, mereka kehilangan suara di lima kota besar di Turki.

"Misalnya di Istanbul, kota dengan 11 juta suara, mereka menang dengan selisih yang kecil. Hal itu bisa disebut sebagai kekalahan," kata Murat Yetkin.

Ia menambahkan, hasilnya juga menunjukkan sistem pemilihan presiden didesain untuk menghindari koalisi. Hal itu terjadi sejak AKP tidak dapat memelihara mayoritas tanpa MHP.

Seorang relawan CHP, Ozgur Dilber mengatakan, hasil pemilu menunjukkan popularitas AKP telah menyusut meskipun koalisi Erdogan menang di Istanbul. "Bagi saya, hasilnya membuktikan pemilih yang menginginkan perubahan semakin bertambah," kata Ozgur kepada Aljazirah di luar kantor pemantauan pemilu.

Pada awal bulan ini, Statistik resmi menunjukkan, dalam dua kuartal 2018, Ekonomi Turki jatuh pada resesi pertama dalam satu dekade terakhir. Inflasi dan suku bunga melonjak karena adanya krisis mata uang.

Pada Februari, inflasi berada di bawah 20 persen. Di saat yang sama suku bunga Bank Sentral berada pada 24 persen.

Menjelang pemilu, People's Alliance mencari keterkaitan antara pemilu lokal dengan bahaya internal dan eksternal yang mengancam keamanan negara. Erdogan ia seringkali menyalahkan kekuatan asing dan spekulan atas naik turunnya mata uang dan masalah ekonomi yang dihadapi Turki. Sebuah pesan yang diulang pada minggu ini.

Di sisi lain, aliansi oposisi fokus dalam berkampanye masalah ekonomi dan dampaknya bagi masyarakat. Mereka juga menggunakan bendera Turki dalam berkampanye, bukan dengan spanduk partai. Hal itu dalam rangka menarik perhatian masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA