Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Netanyahu Tanggapi Tudingan AS Dukung Israel karena Uang

Rabu 27 Mar 2019 14:02 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Presiden AS, Donald Trump menandatangani dokumen pengakuan atas Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah Israel

Presiden AS, Donald Trump menandatangani dokumen pengakuan atas Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah Israel

Foto: AP
AIPAC menjadi kelompok lobi terkuat Yahudi terkuat di AS.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyangkal dugaan bahwa politisi Amerika Serikat (AS) mendukung negaranya karena uang. Hal itu dia sampaikan melalui telekonferensi pada konvensi The American-Israel Public Affairs Committee (AIPAC) di Washington, Amerika Serikat (AS), Selasa (26/3).

"Beberapa orang tidak akan pernah mengerti. Mereka tidak akan pernah mengerti mengapa sebagian besar orang Amerika, baik Yahudi maupun non-Yahudi, mendukung Israel," kata Netanyahu.

Dia menegaskan hal itu terjadi bukan karena uang. "Ini bukan tentang Benjamin (merujuk pada sosok Benjamin Franklin yang tertera di pecahan uang 100 dolar AS)," ucapnya.

"Alasan orang-orang Amerika mendukung Israel bukan karena mereka menginginkan uang kita, itu karena mereka berbagi nilai-nilai kita," ujar Netanyahu melanjutkan.

Pernyataan Netanyahu itu kemudian ditanggapi anggota Kongres AS Ilhan Omar. Salah satu Muslimah pertama yang duduk di Kongres itu diketahui pernah menyebut bahwa miliarder Yahudi berupaya "membeli" pemilu sela AS tahun lalu.

"Kekerasan supremasi kulit putih sedang meningkat secara global. Ekstremis sayap kanan menewaskan lebih banyak orang di AS pada 2018 dibandingkan tahun apa pun sejak 1995. Kekerasan anti-Semit menyumbang 58 persen dari kejahatan kebencian agama. Namun, topik yang Netanyahu pilih untuk fokus adalah saya," ujar Omar melalui akun Twitter pribadinya.

Ketika mengatakan bahwa miliarder Yahudi berusaha mengintervensi pemilu AS tahun lalu, Omar, bersama Muslimah pertama lainnya yang mendapat kursi di Kongres, Rashida Tlaib, dipanggil oleh Pemimpin Minoritas Republik Kevin McCarthy.

Seorang advokat dan jurnalis AS Glenn Greenwald kemudian mengomentari pemanggilan Omar dan Tlaib melalui akun Twitter pribadinya. "Pemimpin GOP (Partai Republik) Kevin (McCarthy) mengancam hukuman untuk Ilham (Omar) dan Rashida (Tlaib) atas kritik mereka terhadap Israel. Sungguh mengherankan berapa banyak waktu yang dihabiskan para pemimpin politik AS untuk membela negara asing meskipun itu berarti menyerang hak kebebasan berbicara Amerika," kata dia.

Cicitan Greenwald kemudian direspons Omar. "Ini semua tentang Benjamin, sayang," katanya merujuk pada pecahan uang 100 dolar AS yang bergambar mantan presiden AS Benjamin Franklin.

Ketika ditanya apa maksud komentarnya, Omar menjawab, "AIPAC!". Pernyataan Omar itu seketika menuai kritik dari banyak kalangan politisi di AS, baik dari kalangan Republik maupun Demokrat. Presiden AS Donald Trump pun turut mengecamnya.

Trump bahkan mendesak agar Omar mundur dari jabatannya di Kongres. "Anti-Semitisme tidak memiliki tempat di Kongres Amerika. Dan saya pikir dia harus mengundurkan diri dari Kongres atau seharusnya dia mengundurkan diri dari Komite Urusan Luar Negeri House (of Representative)," kata Trump pada Februari lalu.

Omar sendiri telah meminta maaf atas pernyataanya di Twitter. "Anti-Semitisme itu nyata dan saya berterima kasih kepada sekutu dan kolega Yahudi yang mendidik saya tentang sejarah menyakitkan dari anti-Semit," katanya.

Omar mengaku tidak bermaksud menyinggung konstituennya atau Yahudi Amerika secara keseluruhan. "Kita harus selalu bersedia untuk melangkah mundur dan memikirkan kritik, sama seperti saya berharap orang mendengar saya ketika orang lain menyerang saya karena identitas saya. Inilah sebabnya saya benar-benar meminta maaf," ujarnya.

Namun, terlepas dari kontroversi pernyataannya, Omar dianggap telah membongkar tabu untuk mengkritik AIPAC. AIPAC didirikan pada 1951 oleh pemimpin Yahudi-Amerika sebagai kelompok kepentingan yang memiliki misi memajukan tujuan Israel di AS. AIPAC telah berkembang menjadi salah satu kelompok lobi paling kuat di Negeri Paman Sam. Hingga saat ini, anggota AIPAC telah mencapai lebih dari 100 ribu orang di seluruh AS.

Adapun pengaruh AIPAC dalam politik Amerika berasal dari sumbangan-sumbangan yang digelontorkan para anggotanya. Uang sumbangan tersebut diberikan kepada mereka yang hendak meraih jabatan politik, baik di tingkat negara bagian maupun nasional.

Pemerintahan Trump saat ini diketahui telah mengabulkan salah satu tuntutan AIPAC, yakni mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017. AS menjadi negara pertama yang melakukan hal tersebut. Keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel memicu kritik serta protes dari dunia internasional, terutama negara-negara Arab dan Muslim.

Pada Senin lalu, Trump pun secara resmi mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Golan merupakan wilayah Suriah yang diduduki Israel pasca-Perang Arab-Israel 1967.

Keputusan Trump mengakui Yerusalem dan Dataran Tinggi Golan telah memicu reaksi keras, terutama dari Liga Arab, termasuk Uni Eropa serta PBB. Sebab, tindakan itu dianggap telah melanggar resolusi dan hukum internasional.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA