Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Saat Putin Alami Pembicaraan tak Mudah dengan Erdogan

Selasa 09 Apr 2019 11:13 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan pertemuan di Kremlin, Moskow, Rusia, Senin (8/4).

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan pertemuan di Kremlin, Moskow, Rusia, Senin (8/4).

Foto: Alexei Nikolsky, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP
Putin dan Erdogan memperjuangkan kepentingan nasional masing-masing.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Moskow, Senin (8/4). Peningkatan kerja sama dan hubungan bilateral menjadi fokus utama dalam pembicaraan mereka.

Putin mengungkapkan, nilai kerja sama ekonomi antara Rusia dan Turki mengalami peningkatan cukup signifikan. Nilai perdagangan kedua negara, misalnya, mencapai 25 miliar dolar AS, naik hampir 16 persen. Sementara volume investasi bersama mendekati 20 miliar dolar AS.

Namun, Putin mengaku pembicaraannya dengan Erdogan tak berlangsung mudah. Sebab mereka sama-sama memperjuangkan kepentingan nasional masing-masing.

Baca Juga

"Jika Anda hanya berpikir pembicaraan itu tenang dan kami hanya saling memuji, berbicara tentang pencapaian kami, Anda salah," kata Putin dalam konferensi pers bersama, dikutip laman kantor berita Rusia TASS.

Menurut Putin, selama pertemuan dia dan Erdogan tetap terlibat dalam perdebatan. "Misalnya, kami berdebat tentang retribusi pada industri metalurgi kami. Bagaimana pun solusi akan ditemukan. Kami akan bekerja ke arah mereka dan kami akan menemukan mereka karena kami menghargai pasar Turki," ujarnya.

Putin menegaskan kerja sama antara Rusia dan Turki bukan untuk kepentingan salah satu negara. "Ini untuk kepentingan rakyat Turki dan Rusia serta untuk keseimbangan, kami akan menjaganya," ucap Putin.

Dalam bidang militer, Erdogan dan Putin sempat membahas tentang kesepakatan Turki membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. "Ada ruang untuk pengembamgan di sini. Kita dapat memasuki pengembangan bersama dan produksi bersama peralatan militer berteknologi tinggi," katanya.

Selain itu, mereka juga mendiskusikan tentang krisis Suriah, khususnya tentang situasi di Provinsi Idlib. Putin berharap upaya bersama akan menormalkan situasi di dalam dan di sekitar zona deeskalasi tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA