Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Iran Membalas, Komando Pusat AS Masuk Daftar Teroris

Selasa 09 Apr 2019 14:54 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Bendera Iran  (ilustrasi)

Bendera Iran (ilustrasi)

Foto: politico.ie
Sebelumnya, AS menggolongkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran secara resmi menunjuk Komando Pusat Amerika Serikat (AS) (CENTCOM) sebagai organisasi teroris. Dewan Iran juga menuduh AS sebagai pendukung terorisme.

"Dewan mengumumkan keputusan menambah CENTCOM bersama dengan pasukan terafiliasi masuk ke dalam daftar entitas teroris," demikian pernyataan dewan Iran seperti dikutip Anadolu Agency, Selasa (9/4).

Langkah ini dilakukan sebagai pembalasan nyata bagi keputusan AS yang terlebih dahulu mengumumkan Garda Revolusi Iran (RGC) sebagai organisasi teroris asing. Dalam pernyataanya, dewan keamanan Iran mengecam keputusan tidak berdasar dari Washington. Sebab pernyataannya sangat membahayakan perdamaian regional dan global, serta melanggar resolusi PBB.

RGC Iran, kemudian menunjukkan, telah memerangi kelompok-kelompok teroris seperti ISIS, Al-Qaeda, dan Front Al-Nusra. Langkah AS tersebut menandai pertama kalinya sebuah lembaga pemerintah secara resmi ditetapkan sebagai organisasi teroris.

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menilai langkah AS sebagai 'hadiah' untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelum pemilihan besok. "Hadiah (nother) sesat untuk Netanyahu. Sebuah (misherventure) berbahaya AS di wilayah ini," cicit Zarif di Twitter.

RGC Iran yang kuat pada awalnya didirikan untuk menjadi pelopor revolusi 1979 Iran. Kini, RGC menikmati lebih banyak otonomi daripada militer Iran lainnya atau bisa dibilang RGC hanya menjawab panggilan dari pemimpin tertinggi Iran. RGC juga bertanggung jawab penuh atas program rudal balistik tangguh Iran.

Langkah oleh AS membuka pintu bagi kemungkinan penuntutan pidana terhadap individu yang melakukan bisnis dengan RGC. Namun, hal itu dapat menghambat diplomasi AS sendiri, khususnya di Irak dan Lebanon, di mana para pejabat lokal melakukan kontak rutin dengan perwakilan RGC.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA