Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Rusia Minta AS Berhenti Campuri Urusan Negara Lain

Kamis 11 Apr 2019 16:38 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Warga Venezuela mengantre air bersih dari sebuah truk di Caracas, Venezuela, Rabu (27/3).

Warga Venezuela mengantre air bersih dari sebuah truk di Caracas, Venezuela, Rabu (27/3).

Foto: AP Photo/Natacha Pisarenko
Rusia menyinggung intervensi AS di Venezuela.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Pemerintah Rusia meminta Amerika Serikat (AS) berhenti mencampuri urusan domestik negara lain. Hal itu disampaikan perwakilan Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia dalam pertemuan Dewan Keamanan pada Rabu (10/4).

"Jika Anda ingin 'menjadikan Amerika hebat kembali' (jargon pemerintahan Donald Trump), maka berhentilah mencampuri urusan dalam negeri orang lain," ujar Nebenzia, dikutip laman Anadolu Agency.

Pernyataan itu diutarakan Nebenzia setelah Wakil Presiden AS Mike Pence menuntut PBB mengakui pemerintahan sementara Venezuela yang dipimpin tokoh oposisi Juan Guaido. "Sudah waktunya PBB berbicara. Sekarang negara-negara di belahan bumi ini telah berbicara, sudah waktunya bagi PBB mengakui presiden sementara Juan Guaido sebagai presiden Venezuela yang sah dan mendudukkan wakilnya dalam badan ini," kata Pence.

Nebenzia pun melontarkan kritik terhadap Pence. Dia meminta AS memgakui semua hak rakyat Venezuela, termasuk negara lain, untuk menjadi tuan atas nasib mereka masing-masing. "Anda tidak suka orang lain ikut campur dalam urusan Anda, bukan? Tidak ada yang mau," ujar Nebenzia.

Venezuela diketahui sedang dilanda krisis ekonomi. Krisis semakin memburuk karena adanya perebutan kekuasaan di negara tersebut, yakni antara Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan pemimpin oposisi Juan Guaido.

Guaido, yang telah memproklamasikan diri sebagai presiden sementara Venezuela pada Januari lalu, menghendaki Maduro lengser dari jabatannya. Sementara Maduro masih bertekad mempertahankan kekuasaannya.

Dukungan dunia internasional pun terpecah kepada dua tokoh tersebut. AS, Israel, Australia, dan mayoritas negara anggota Uni Eropa membela kepemimpinan Guaido diVenezuela. Sedangkan Maduro memperoleh dukungan dari beberapa negara, antara lain Rusia, Cina, Turki, dan Kuba.

AS telah menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Caracas guna menekan pemerintahan Maduro. Sanksi AS menyebabkan Venezuela kehilangan pendapatannya, terutama dalam bidang penjualan minyak. Hal tersebut berdampak pula atas kian memburuknya situasi kemanusiaan di Venezuela.

Dalam menghadapi krisis kemanusiaan, Venezuela memperoleh bantuan dari sekutunya, terutama Rusia dan Kuba. Moskow diketahui telah mengirim berton-ton bantuan kemanusiaan berupa pangan dan obat-obatan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA