Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

AS Desak MBS Putus Hubungan dengan Pembunuh Khashoggi

Sabtu 13 Apr 2019 09:30 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman

Foto: AP/Cliff Owen
AS mendesak MBS memutus hubungan dengan Saud al-Qahtani yang membunuh Khashoggi

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mendesak Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) memutuskan hubungan dengan seorang mantan penasihat kerajaan terkait dengan pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi. Laporan The Guardian mengutip sumber anonim, Pompeo secara pribadi mengangkat keprihatinan soal hubungan MBS dengan Saud al-Qahtani yang dituduh mendalangi pembunuhan Khashoggi.

Baca Juga

The Guardian melaporkan bahwa al-Qahtani masih aktif di dalam kantor pribadi MBS. Sumber Kementerian luar negeri AS mengatakan kepada The Guardian bahwa mereka tidak akan membahas percakapan diplomatik pribadi.

Sementara koresponden Aljazirah mengatakan, terdapat persepsi di AS bahwa Saud al-Qahtani memiliki pengaruh yang sangat besar pada Mohammed bin Salman. Kongres AS pun telah mengirim RUU kepada Presiden AS Donald Trump yang akan mengakhiri dukungan AS untuk perang Saudi-UEA di Yaman. 

Undang-undang tersebut dipandang sebagai teguran keras atas dukungan Trump untuk Saudi setelah pembunuhan Khashoggi. Trump hingga kini belum bertindak atas tindakan itu, tetapi Gedung Putih sebelumnya mengindikasikan bahwa presiden akan memveto RUU tersebut.

Pekan lalu, Kementerian Luar Negeri AS melarang masuk ke 16 warga negara Saudi, termasuk al-Qahtani. Sebab mereka berperan mereka dalam pembunuhan Khashoggi.

AS juga sebelumnya mencabut visa hampir puluhan pejabat Saudi dan membekukan aset 17 lainnya. "Jika terjadi pelanggaran berat, individu-individu dan anggota keluarga dekat mereka tidak memenuhi syarat. untuk masuk ke Amerika Serikat," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri AS dilansir Aljazirah, Sabtu (13/4).

Khashoggi dibunuh pada 2 Oktober 2018, setelah memasuki konsulat Saudi di Istanbul untuk mendapatkan dokumen pernikahannya. Setelah awalnya memberikan beberapa pernyataan yang bertentangan, kerajaan Saudi mengkonfirmasi wartawan itu tewas di dalam konsulatnya di Turki. Agen-agen intelijen AS dilaporkan menyimpulkan bahwa MBS terlibat dalam kasus pembunuhan Khashoggi, namun kesimpulan AS dibantah kerajaan.

Al-Qahtani diyakini memainkan peran penting dalam pembunuhan Khashoggi. Ia diduga orang pertama yang berperan memikat Khasoggi kembali ke Arab Saudi. Al-Qahtani bertemu dengan tim pembunuh Saudi sebelum mereka pergi ke Turki.

Diduga ia pun memberi perintah untuk membunuh Khashoggi jika menolak untuk kembali ke negaranya secara sukarela. Al-Qahtani diberhentikan sebagai penasihat kerajaan setelah pembunuhan Khashoggi. Kendati demikian, ambiguitas seputar statusnya menimbulkan pertanyaan apakah ia terus memiliki pengaruh di belakang layar atau tidak.

Pada Januari, Washington Post melaporkan bahwa MBS tetap berhubungan teratur dan terus mencari saran dari al-Qahtani. The Post mengutip sebuah sumber Saudi  mengatakan, bahwa al-Qahtani baru-baru ini melakukan dua perjalanan ke Uni Emirat Arab (UEA), meskipun ia dianggap berada di bawah tahanan rumah di Riyadh.

Penasihat itu juga dilaporkan bertemu dengan para deputi senior dari Pusat Studi dan Media Urusan media istana baru-baru ini di rumahnya di Riyadh. Laporan juga mengatakan kepada mereka bahwa ia telah disalahkan dan digunakan sebagai kambing hitam. Al-Qahtani telah menjabat untuk menjalankan perannya sebagai penasihat pusat Saudi sampai tak lama setelah kematian Khashoggi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA