Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

25 Warga Venezuela Hilang di Laut

Jumat 26 Apr 2019 10:02 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Ani Nursalikah

Warga mengantre air bersih dan pil pemurni air saat bantuan kemnausiaan pertama Palang Merah tiba di Caracas, Venezuela, Selasa (17/4).

Warga mengantre air bersih dan pil pemurni air saat bantuan kemnausiaan pertama Palang Merah tiba di Caracas, Venezuela, Selasa (17/4).

Foto: AP Photo/Ariana Cubillos
Warga Venezuela pergi ke Trinidad karena situasi dan kondisi ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Sebanyak 25 warga Venezuela yang menjadi migran dilaporkan hilang setelah kapal yang mereka tumpangi dalam perjalanan ke Trinidad tenggelam, Kamis (25/4). Sementara itu, sebagian dari rombongan migran itu selamat.

Menurut pihak berwenang, setelah kejadian berlangsung ada sembilan orang yang berhasil diselamatkan. Mereka ditarik saat terjatuh dari kapal yang tenggelam tersebut.

Saat ini, tim penyelamat melakukan pencarian di wilayah perairan Karibia. Sebanyak 25 migran asal Venezuela yang hilang tersebut meninggalkan negara mereka menuju Trinidad pada Selasa (23/4) lalu menggunakan sebuah kapal kecil.

Menurut laporan pihak berwenang Trinidad dan Tobago, kapal yang membawa puluhan migran Venezuela itu terbalik, tidak jauh dari lokasi pantai. Secara keseluruhan, migran Venezuela yang berada di kapal tersebut mencapai lebih dari 40 orang.

Pihak berwenang Venezuela yang memimpin pencarian juga mengatakan kemungkinan jumlah migran yang hilang bukanlah 25, namun 34. Tak sedikit dari orang-orang yang naik ke kapal tak terdaftar.

Seorang anggota parlemen oposisi Venezuela, Robert Alcalá mengatakan ada 25 orang  yang menaiki kapal di pelabuhan Güiria di negara mereka. Namun, beberapa lainnya naik secara ilegal di pemberhentian kapal lain di sepanjang pantai. Beberapa orang yang hampir tenggelam dikatakan telah diselamatkan oleh nelayan.

“Mereka pergi ke Trinidad karena situasi dan kondisi ekonomi di negara ini,” ujar Alcala dilansir New York Times, Jumat (26/4).

Venezuela telah dilanda krisis dan kekacauan, seiring kondisi ekonomi di negara itu yang saat ini dilanda hiperinflasi. Pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Nicolas Maduro dianggap oleh oposisi telah menciptakan situasi yang semakin buruk dengan kebijakan sosialis yang ia terapkan, serta pendahulunya mantan presiden Hugo Chavez.

Salah satunya dengan adanya program kesejahteraan sosial yang dibuat pada 2013 lalu membuat harga ekspor minyak Venezuela menurun. Akibatnya, pendapatan pemerintah berkurang secara signifikan dan berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat negara itu untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari membeli bahan-bahan makanan, obat-obatan, hingga susu bayi.

Kondisi itu terus berlanjut hingga saat ini, diperburuk dengan terjadinya pemadaman listrik besar-besaran yang terjadi mulai pada Maret lalu. Setidaknya, 3,7 juta warga Venezuela telah melarikan diri dari negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA