Ahad 05 May 2019 12:55 WIB

Oposisi Venezuela Akui Salah Perhitungan Dukungan Militer

Militer justru meredam protes di ibu kota dan meninggalkan oposisi yang didukung AS.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Budi Raharjo
Kembang api dilempar demonstran antipemerintah Venezuela mendarat di dekat kendaraan lapis baja Garda Nasional Bolivarian di Caracas, Venezuela, Selasa (30/4).
Foto: AP Photo/Ariana Cubillos
Kembang api dilempar demonstran antipemerintah Venezuela mendarat di dekat kendaraan lapis baja Garda Nasional Bolivarian di Caracas, Venezuela, Selasa (30/4).

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido mengakui kesalahan yang dibuat dalam upaya menggerakkan pemberontakan militer. Guaido juga mengaku salah tidak menyingkirkan opsi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela bersama pasukan domestik.

Namun, Guaido mengatakan, memertimbangkan mengambil tawaran apapun dari Washington untuk pemungutan suara di Majelis Nasional negara itu. Setelah sepekan dramatis upaya menggulingkan Presiden Nicolás Maduro sejak Selasa, Guaido mengakui bahwa oposisi telah salah menghitung dukungannya dalam militer.

Dalam wawancara eksklusif dengan The Washington Post, Guaido masih terus menyarankan agar Maduro mundur di tengah gelombang pembelotan dalam militer. Namun sebaliknya, seruan Guaido bagi militer untuk meninggalkan Maduro, tidak menghasilkan pembelotan massal. Pasukan keamanan Maduro malah kemudian meredam protes di jalanan ibu kota, dan meninggalkan oposisi yang didukung Guaido, dan AS.

"Mungkin karena kita masih membutuhkan lebih banyak tentara, dan mungkin kita membutuhkan lebih banyak pejabat rezim untuk bersedia mendukungnya, mendukung konstitusi," ujar Guaido dilansir The Washington Post, Ahad (5/5). "Saya pikir variabelnya jelas pada saat ini," tambahnya.

Guaido yang merupakan ketua Majelis Nasional pada Januari lalu menyatakan Maduro sebagai perampas kekuasaan. Ia pun mengklaim resmi kepemimpinan nasional, tetapi belum mendukung penuh intervensi militer AS secara sepihak.  

Guaido menjelaskan, bahwa setiap dukungan militer AS harus bersama pasukan Venezuela yang telah berbalik melawan Maduro. Namun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut saat ditanya mendetail.

Pemerintahan Trump telah mengatakan, semua opsi ada, termasuk intervensi militer. Meski, pemerintah AS belum secara jelas memberi isyarat apakah akan mendukung intervensi terhadap Maduro atau tidak.

Jika penasihat keamanan nasional AS John Bolton memanggil Guaido dengan tawaran intervensi militer AS, Guaido akan menjawab: "Yang terhormat, duta besar John Bolton, terima kasih atas semua bantuan yang telah Anda berikan untuk tujuan yang adil di sini. Terima kasih atas pilihannya, kami akan mengevaluasinya, dan mungkin akan mempertimbangkannya di parlemen untuk menyelesaikan krisis ini. Jika perlu, mungkin kami akan menyetujuinya," tegas Guaido.

Guaido mengatakan, dia menyambut musyawarah tentang opsi militer di Washington, yang menyebut hal itu sebagai berita besar. Menurutnya, hal tersebut adalah kabar baik bagi Venezuela, sebab pihaknya mengevaluasi semua opsi.

Ia mengaakan, AS adalah sekutu penting. Sehingga Venzuela membutuhkan kerja sama. "Saya pikir ada banyak tentara Venezuela yang ingin mengakhiri (gerilyawan kiri), dan membantu bantuan kemanusiaan masuk. Sehingga akan dengan senang hati menerima kerja sama untuk mengakhiri perebutan kekuasaan. Dan jika itu termasuk kerja sama negara-negara terhormat seperti AS, saya pikir itu akan menjadi pilihan," ujar Guaido.

Namun setelah pemberontakan yang gagal sejak Selasa, Guaido akan bertempur di dua front: pertama untuk menggulingkan Maduro, dan membuat oposisi tetap bersatu. Guaido, seorang insinyur industri berusia 35 tahun dan mantan pemimpin mahasiswa dari pantai Karibia Venezuela, telah menyulut harapan baru di jajaran oposisi sejak ia muncul sebagai kepala Majelis Nasional yang dikendalikan oposisi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement