Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Penyelidikan Jatuhnya Boeing Dimulai

Senin 06 May 2019 09:09 WIB

Red: Budi Raharjo

Pesawat Boeing 737 tergelincir di sebuah sungai di ujung landasan pacu di Jacksonville, Florida, Jumat (3/5).

Pesawat Boeing 737 tergelincir di sebuah sungai di ujung landasan pacu di Jacksonville, Florida, Jumat (3/5).

Foto: Jacksonville Sheriff's Office via AP
Pesawat Boeing 737-800 jatuh ke Sungai St Johns yang terletak di ujung landasan pacu.

REPUBLIKA.CO.ID, FLORIDA -- Penyelidik federal Amerika Serikat (AS) mulai menyelidiki penyebab pesawat jet Boeing berpenumpang 143 jatuh dari landasan pacu ke sungai dangkal saat mendarat di pangkalan militer Jacksonville, Florida, Jumat (4/5) malam waktu setempat. Badai petir diduga terjadi ketika pesawat jatuh sehingga melukai 22 orang.

Pesawat Boeing 737-800 yang disewa oleh militer AS dijadwalkan tiba di Stasiun Angkatan Laut Teluk Guantanamo di Kuba. Berisi 136 penumpang dan tujuh anggota awak, pesawat kemudian mengalami kecelakaan jatuh ke Sungai St Johns yang terletak di ujung landasan pacu atau sekitar 9.000 kaki di Naval Air Station Jack sonville.

Komandan di Stasiun Jacksonville, Kapten Michael Connor, mencatat, terdapat 22 orang yang terluka. Termasuk, seorang anak berusia tiga bulan yang kini dirawat di rumah sakit setempat.

Wakil Ketua Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Bruce Landsberg mengatakan, pihaknya telah menemukan perekam data penerbangan yang masih aman. Kemudian, perekam tersebut di kirim ke Washington untuk di analisis.

"Kami berharap mendapatkan laporan yang sangat lengkap segera," katanya. Penyelidik mengatakan, pihaknya dapat melakukan wawancara dari para kru pesawat pada Ahad (5/5).

Perekam suara kokpit yang terdapat di ekor pesawat juga ikut tenggelam di bawah air. Penyelidik pun berhasil memulihkannya sampai pesawat diangkat keluar dari air. "Kami akan sangat berhati-hati dalam mengamankan bukti yang mudah rusak," kata Landsberg.

Sementara itu, penyelidik NTSB, John Lovell, meyakini, pihaknya menentukan cara terbaik untuk mengeluarkan pesawat dari air. "Ada beberapa ide dalam hal meletakkan semacam bantal di bawahnya, kemudian memindahkannya ke bantal itu," katanya.

Landsberg mengatakan, para penyelidik akan mengamati dengan seksama, apakah cuaca badai petir yang terjadi saat jatuhnya pesawat berperan dalam insiden itu. Tak hanya terdapat anggota militer yang aktif, di dalam pesawat juga terdapat pegawai pemerintah sipil, dan pegawai lainnya.

Pangkalan militer itu terletak di tepi barat Sungai St Johns, sekitar 12,87 kilometer dari selatan Jacksonville pusat atau sekitar 563,27 kilometer utara Miami. Sementara, Miami Air International yang disewa adalah maskapai penerbangan charter yang mengoperasikan armada Boeing 737-800.

Seorang juru bicara Boeing Co mengatakan, pihaknya telah mengetahui kejadian itu dan masih terus berupaya mengumpulkan informasi. Juru bicara pangkalan mikiter Jacksonville mengatakan, perusahaan penyewaan pesawat itu dikontrak oleh militer untuk layanan bolak-balik "rotator" dua kali seminggu antara daratan AS dan Teluk Guantanamo. (fergi nadira/reuters ed: setyanavidita livikacansera )

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA