Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Serangan Israel ke Gaza Lebih Parah dari 2014

Senin 06 May 2019 18:10 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Asap membubung tinggi akibat serangan roket Israel ke Kota Gaza.

Asap membubung tinggi akibat serangan roket Israel ke Kota Gaza.

Foto: AP Photo/Hatem Moussa
Gencatan senjata serangan Israel ke Gaza tercapai dengan mediasi Mesir.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Anggota Kabinet Keamanan Israel, Yuval Steinitz, mengomentari tentang gencatan senjata yang telah tercapai antara kelompok Hamas dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Menurut dia, IDF tak mengambil respons yang lebih luas terhadap serangan roket di selatan Israel.

Baca Juga

Meski tak mengambil respons lebih luas, Steinitz menilai serangan yang dilancarkan militer Israel ke Gaza pada Ahad (5/5) malam merupakan salah satu yang terparah. “Serangan Israel tadi malam adalah seperti yang terburuk yang kami lakukan di Operation Protective Edge (OPE). Dulu kami merobohkan bangunan setelah 50 hari. Sekarang kami melakukannya dalam waktu kurang dari sehari,” katanya kepada Army Radio, dikutip laman Israel National News, Senin (6/5).

OPE merupakan operasi militer Israel ke Gaza pada konflik 2014. Kala itu, sekitar 1.800 warga Palestina di Gaza tewas akibat serangan Israel dan puluhan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Agresi yang dilakukan Israel juga menyebabkan infrastruktur di Gaza porak poranda.

Menurut Steinitz, Gaza memang perlu ditaklukkan ketika Israel hendak menumpas Hamas. “Untuk menyingkirkan Hamas, kita perlu menaklukkan Gaza. Itu adalah sesuatu yang mungkin, tapi akan membutuhkan harga yang sangat mahal,” ujar tokoh yang juga menjabat sebagai anggota parlemen Israel (Knesset) dari Likud Party tersebut. 

Mantan menteri pertahanan dan urusan strategis Israel itu juga sempat ditanya apakah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memiliki niat untuk memisahkan Gaza dari Otoritas Palestina guna mencegah solusi dua negara. “Yang menyebabkan pemisahan antara Gaza dan Ramallah adalah Palestina,” kata dia.

Setelah terlibat pertempuran mematikan pada akhir pekan lalu, Hamas dan Israel akhirnya menyepakati gencatan senjata pada Senin pagi waktu setempat. Gencatan senjata tercapai dengan bantuan mediasi dari Mesir.

Pertempuran terbaru antara Israel dan Hamas serta Jihad Islam telah menyebabkan empat warga Israel dan lebih dari 20 warga Palestina tewas.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA