Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

Pasukan Hauthi Ditarik dari Tiga Pelabuhan Yaman

Senin 13 May 2019 14:33 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Seorang tentara suku di Yaman tengah mengamat pergerakan pasukan milisi Houthi.

Seorang tentara suku di Yaman tengah mengamat pergerakan pasukan milisi Houthi.

Foto: Al Arabiya
Houthi menarik pasukan dari pelabuhan utama Yaman.

REPUBLIKA.CO.ID, ADEN -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat penarikan Houthi dari tiga pelabuhan Laut Merah Yaman berjalan sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Tapi, seorang pejabat pemerintah yang diakui internasional mengatakan, adanya keraguan penarikan pasukan oleh Yaman yang disebutnya terdapat 'penipuan'.

Pada Sabtu (11/5) sekitar pukul 10.00, Houthi memulai penarikan pasukan mereka yang lama tertunda dari pelabuhan utama Hodeidah. Dua pelabuhan yang lebih kecil dari Saleef dan Ras Isa juga dilakukan penarikan. Hal itu adalah sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dicapai di Swedia pada Desember lalu.

Baca Juga

"Ketiga pelabuhan dipantau secara bersamaan oleh tim PBB ketika pasukan militer meninggalkan pelabuhan dan penjaga pantai mengambil alih tanggung jawab untuk keamanan," ujar mantan Letnan Jenderal Denmark Michael Lollesgaard yang kini menjabat kepala Komite Koordinasi Penempatan Kerja PBB (RCC) dalam sebuah pernyataan dilansir Aljazirah, Senin (13/5).

PBB mengatakan, kegiatan pada hari-hari berikutnya diharapkan untuk fokus pada penghapusan manifestasi militer dan penambangan. Langkah penarikan pasukan Houthi dipandang sebagai langkah utama menuju pengakhiran perang saudara yang terjadi pada 2014, ketika Houthi merebut ibu kota, Sanaa. 

Kendati demikian, Menteri Penerangan Yaman Moammar al-Waryani menuduh para pemberontak hanya berpura-pura mundur. Sehingga, bisa menyesatkan informasi internasional.

"Apa yang dilakukan milisi Houthi adalah sandiwara belaka berulang-ulang untuk menyerahkan kendali pelabuhan kepada pasukannya sendiri (dalam seragam yang berbeda)," tulis al-Eryani di akun Twitternya, Ahad.

Seorang pengunjung dari lembaga pemikir Chatham House yang berbasis di London, Farea al-Muslimi mengatakan, perjanjian (Swedia) akan sangat sulit untuk dilaksanakan, karena garis-garisnya masih kabur dan masing-masing pihak mengartikannya seperti yang mereka inginkan. "Secara keseluruhan, dua pekan ke depan akan menunjukkan apakah ini merupakan penyerahan atau penyimpangan lainnya," ujar al-Muslimi.

Berdasarkan rencana penarikan tersebut, Houthi akan mundur lima kilometer dari pelabuhan antara 11 Mei dan 14 Mei 2019. Sementara pasukan koalisi, yang saat ini berkumpul empat kilometer dari pelabuhan Hodeidah di pinggir kota, akan mundur satu kilometer dari dua distrik titik pertumpuan.

Arab Saudi dan Uni Emirate Arab merupakan para pemimpin koalisi yang mendukung pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi. Kedua negara sejauh ini belum mengomentari penarikan pasukan Houthi di pelabuhan.

Sementara, Pemantau PBB akan memverifikasi penarikan Houthi pada Selasa. Seorang analis politik Yaman yang berbasis di Doha, Saeed Thabet mengatakan, pemindahan berjalan lancar sebab kedua belah pihak dari konflik itu berusaha memperpanjang dalam memposisikan diri mereka di garis depan yang baru.

"Selain itu, kedua belah pihak ingin menunjukkan komitmen mereka untuk bekerja dengan PBB terutama karena Dewan Keamanan PBB dijadwalkan bertemu minggu ini untuk membahas kemajuan di Yaman," katanya.

Lembaga kemanusiaan mencatat, konflik di Yaman telah menewaskan puluhan ribu orang yang banyak dari mereka adalah warga sipil. PBB mengatakan, pertempuran Yaman memicu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Di mana 24,1 juta orang atau lebih dari dua pertiga populasi membutuhkan bantuan.

Seorang Ahli Yaman di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri Adam Baron menilai, penarikan Houthi merupakan terobosan potensial. Menurutnya, penarikan yang tidak seberapa signifikan itu bisa benar-benar terjadi karena kurangnya kepercayaan di antara para pihak.

"Itu hanya menandakan kemajuan pada satu bagian dari kesepakatan dan satu aspek dari konflik. Penting untuk diingat bahwa Yaman bukan Hodeidah dan bahkan di tengah-tengah relatif tenang di sana, konflik terus membara, tambahnya.

Pelabuhan-pelabuhan tersebut di atas digunakan untuk mendistribusikan biji-bijian, minyak, perdagangan, dan bantuan. Di mana Hodeidah menangani 70 persen impor pangan negara itu dan bantuan kemanusiaan.

Kekhawatiran keamanan mencegah PBB selama berbulan-bulan dalam mengakses 51 ribu ton gandum di silo dekat Hodeidah yang dapat memberi makan jutaan orang di negara miskin itu. Tapi Tim mendapatkan kembali akses pada 5 Mei.

Perang di Yaman telah mengalami kebuntuan selama bertahun-tahun. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi-UEA dan pasukan Yaman tidak mampu mengusir pemberontak Houthi dengan Iran dari ibu kota, Sanaa, dan pusat-pusat kota lainnya. Kesepakatan damai yang disepakati pada bulan Desember terhenti selama berbulan-bulan.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA