Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

24 Pengungsi Rohingya Diselamatkan dari Aksi Penyelundupan

Selasa 14 Mei 2019 00:20 WIB

Red: Nidia Zuraya

Pengungsi Rohingya

Pengungsi Rohingya

Foto: AP Photo/Dar Yasin, File
Para pengungsi Rohingya ini akan diselundupkan ke Malaysia

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Sebanyak 24 orang pengungsi rohingya telah diselamatkan di Ibu Kota Bangladesh, Dhaka, dari aksi penyelundupan ke Malaysia. Polisi juga menahan empat tersangka penyelundup serta menyita puluhan paspor orang Bangladesh dari tersangka penyelundup.

"Dari 24 pengungsi Rohingya yang diselamatkan, 22 adalah perempuan yang berusia antara 15 dan 22 tahun," kata pejabat kepolisian Mazedul Islam kepada harian setempat Prothom Alo sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Turki, Anadolu Agency, Senin (13/5).

Mazedul Islam mengatakan para tersangka penyelundup telah membawa pengungsi tersebut ke Dhaka dari Cox's Bazar dan menyekap mereka di satu rumah. Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang yang paling tersiksa di dunia, telah menghadapi kekhawatiran yang meningkat mengenai serangan sejak puluhan orang tewas dalam bentrokan antar-masyarakat pada 2012 di Myanmar.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya, kebanyakan perempuan dan anak kecil, telah menyelamatkan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh, setelah pasukan keamanan Myanmar melancarkan penindasan terhadap masyarakat minoritas Muslim pada Agustus 2017.

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24 ribu Muslim Rohingya telah tewas oleh pasukan negara Myanmar, kata satu laporan dari Ontarion International Development Agency (OIDA). Lebih dari 34 ribu pengungsi Rohingya juga dilemparkan ke api, sementara lebih dari 114 ribu orang lagi dipukuli, kata laporan itu, yang diberi judul "Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience".

Sebanyak 18 ribu anak perempuan dan perempuan Rohingya diperkosa oleh polisi dan tentara Myanmar dan lebih dari 115 ribu rumah orang Rohingya dibakar dan 113 ribu lagi dirusak, tambah organisasi tersebut.

PBB juga telah mencatat perkosaan massal, pembunuhan, termasuk bayi dan anak kecil, dan pemukulan brutal serta penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar. Di dalam satu laporan, para penyelidik PBB mengatakan pelanggaran semacam itu mungkin merupakan kejahatan terhadap umat manusia dan pemusnahan suku bangsa dengan sengaja.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA