Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Donald Trump akan Kunjungi Korsel untuk Bahas Nuklir Korut

Kamis 16 Mei 2019 07:44 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump (kanan) dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in saat upacara penyambutan kedatangan Trump di Istana Biru di Seoul, Selasa (7/11).

Presiden AS Donald Trump (kanan) dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in saat upacara penyambutan kedatangan Trump di Istana Biru di Seoul, Selasa (7/11).

Foto: Kim Hong-ji/Pool Photo via AP
Donald Trump juga akan membahas hubungan bilateral AS dan Korsel.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan terbang ke Korea Selatan (Korsel) untuk bertemu dengan Presiden Moon Jae-in pada akhir Juni. Kunjungan Trump tersebut, bersamaan dnegan perjalanannya ke Jepang untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang dijadwalkan pada 28-29 Juni. 

Baca Juga

Dilaporkan Korea Times, Kamis (16/5), Kantor kepresidenan Korsel, Cheong Wa Dae, mengatakan kedua pihak telah sepakat untuk membahas jadwal terperinci melalui konsultasi lebih lanjut. Juru bicara Cheong Wa Dae, Ko Min-jung mengatakan, kedua pemimpin berencana untuk membahas perdamaian permanen di Semenanjung Korea melalui denuklirisasi Korea Utara (Korut), dan memperkuat hubungan bilateral. 

Rencana pertemuan antara Trump dan Moon juga telah diumumkan oleh Gedung Putih. Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan, Presiden Trump dan Presiden Moon akan melanjutkan koordinasi dalam upaya mencapai denuklirisasi final Korut. 

"Kedua pemimpin juga akan membahas cara-cara untuk memperkuat hubungan bilateral dan persahabatan antara kedua negara," ujar Sanders. 

Trump terakhir melakukan perjalanan ke Korea Selatan pada November 2017. Perjalanan itu dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan atas uji coba senjata nuklir dan rudal balistik Korut yang berpotensi mampu menyerang AS. Moon melakukan perjalanan ke Washington bulan lalu untuk mengadakan pembicaraan dengan Trump dan berupaya menghidupkan kembali perundingan denuklirisasi yang mengalami kebuntuan. 

Sebelumnya, Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un mengadakan pertemuan puncak kedua di Vietnam pada Februari, untuk bernegosiasi mengenai denuklirisasi. Namun, negosiasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan.

Ketegangan kembali muncul ketika Korut menembakkan proyektil, termasuk rudal jarak pendek ke Laut Timur pada 4 Mei dan 9 Mei lalu. Sementara, pada pekan lalu, AS mengumumkan untuk pertama kalinya menyita kapal kargo Korut yang diduga membawa ekspor batu bara. Hal ini melanggar sanksi AS yang dijatuhkan kepada Korut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA