Rabu, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 Januari 2020

Rabu, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 Januari 2020

Polisi Malaysia Gagalkan Rencana Teror Besar

Senin 13 Mei 2019 18:51 WIB

Red: Ani Nursalikah

Polisi Malaysia menangkap empat orang yang merencanakan serangan teror skala besar terhadap tempat ibadah non-Muslim dan tokoh penting.

Polisi Malaysia menangkap empat orang yang merencanakan serangan teror skala besar terhadap tempat ibadah non-Muslim dan tokoh penting.

Foto: Royal Malaysia Police
Polisi Malaysia menangkap seorang warga Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Polisi Malaysia menangkap empat pria karena merencanakan pembunuhan dan serangan teror skala besar di Klang Valley. Inspektur Jenderal Polisi Abdul Hamid Bador mengatakan, keempatnya adalah militan ISIS.

Dia mengatakan, mereka disiapkan untuk melakukan serangan di pekan pertama Ramadhan sebagai pembalasan tewasnya pemadam kebakaran Muhammad Adib Mohd Kassim. "Mereka merencanakan untuk membunuh tokoh penting yang menurut mereka tidak menghargai atau menghina Islam," ujar Abdul kepada wartawan di markas polisi di Bukit Aman, dilansir Channel News Asia, Senin (13/5).

Dia menambahkan, mereka juga merencanakan serangan besar terhadap tempat ibadah Kristen, Hindu, dan Buddha. Pusat hiburan di Klang Valley juga menjadi target.

Muhammad Adib meninggal pada 17 Desember tahun lalu akibat luka parah di tengah kerusuhan di kuil Seafield Sri Maha Mariamman Temple di Selangor. Kerusuhan terjadi di lokasi tersebut terkait relokasi kuil. Penyelidikan atas kematiannya masih berlangsung.

Abdul Hamid mengatakan, para tersangka adalah seorang warga Malaysia, dua warga Rohingya, dan seorang warga Indonesia. Mereka ditangkap di Terengganu dan Klang Valley antara 5-7 Mei.

Dalang serangan adalah pekerja konstruksi Malaysia berusia 34 tahun. Dia ditahan di Kuala Berang, Terengganu, pada 5 Mei.

Saat penangkapan, polisi menyita satu buah pistol, 15 peluru, dan enam peledak rakitan (IED) dengan panjang masing-masing sedikitnya 18 sentimeter. Menurut Abdul, salah satu pria Rohingya (20 tahun) bekerja sebagai pelayan dan berstatus sebagai pengungsi. Dia ditangkap pada 7 Mei.

"Dia mengaku mendukung kelompok Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA), dan merencanakan serangan ke Kedutaan Besar Myanmar di Kuala Lumpur dan berencana terus berjuang di Rakhine," katanya.

Sedangkan, warga Indonesia ditangkap di Subang Jaya. Penangkapan warga Rohingya terakhir terjadi di Old Klang Road. Kedua penangkapan dilakukan pada 7 Mei. Abdul mengatakan, polisi masih melacak tiag anggota sel teror mereka.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA