Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Warga Venezuela Kekurangan Bahan Bakar

Sabtu 18 May 2019 13:16 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Gita Amanda

Matahari tenggelam di belakang kilang minyak di dekat El Tigre, sebuah kota di sabuk minyak Hugo Chavez Venezuela. Ekspor minyak Venezuela ke AS telah menurun secara stabil selama bertahun-tahun, turun secara tajam selama dekade terakhir karena produksinya anjlok di tengah krisis ekonomi dan politik yang panjang.

Matahari tenggelam di belakang kilang minyak di dekat El Tigre, sebuah kota di sabuk minyak Hugo Chavez Venezuela. Ekspor minyak Venezuela ke AS telah menurun secara stabil selama bertahun-tahun, turun secara tajam selama dekade terakhir karena produksinya anjlok di tengah krisis ekonomi dan politik yang panjang.

Foto: AP
Penurunan impor bensin dan penghentian produksi kilang minyak menjadi penyebab.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Antrean kendaraan bermotor di sejumlah pom bensin di seluruh Venezuela mulai mengular, akibat dari kurangnya suplai bahan bakar yang semakin memburuk. Penurunan impor bensin dan penghentian produksi kilang-kilang minyak menjadi penyebab kurangnya bahan bakar di negara tersebut.

Beberapa hari terakhir antrean panjang pompa bensin terjadi di negara bagian barat dan selatan perbatasan Tachir, Zulia, dan Bolivar. Masyarakat di wilayah tersebut harus mengantre lebih dari lima jam untuk mendapatkan bensin. Antrean panjang berjam-jam juga terjadi di negara bagian Carabobo dan Aragua, yang berbatasan dengan Caracas.

"Ini adalah penghinaan, kami adalah negara penghasil minyak," ujar Mario Garcia, yang menunggu selama lebih dari satu jam untuk mengisi mobilnya di Puerto Cabello, Sabtu (18/5).

Sementara itu, dari Puerto Cabello di pantai Karibia ke kota industri timur Puerto Ordaz, di tepi sungai Orinoco, beberapa pengendara menunggu bahan bakar. Mereka mengatakan, pemerintahan Maduro perlu berbuat lebih banyak untuk mengatasi masalah bahan bakar.

"Ini kacau. Setiap hari di sini kacau dan sekarang kami memiliki masalah dengan bensin. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di sini, tapi kita butuh perubahan," kata seorang warga Oswaldo Ruiz, ketika sedang mengantre di sebuah pompa bensin di Puerto Ordaz.

Rakyat Venezuela telah berjuang dengan hiperinflasi dan meluasnya kekurangan barang-barang pokok di tengah resesi selama lima tahun. Sanksi keras Amerika Serikat (AS) terhadap sektor energi telah memangkas ekspor minyak mentah, dan membuat pemerintahan Presiden Nicolas Maduro berjuang untuk mengimpor bahan bakar.

Berdasarkan dokumen internal perusahaan minyak negara, PDVSA dan data Refinitiv Eikon, impor bahan bakar Venezuela rata-rata turun menjadi 86 ribu barel per hari pada paruh pertama Mei. Penurunan ini hampir sepertiga dari rata-rata impor pada April. Seorang sumber mengatakan, Venezuela tidak mengimpor kargo bensin sejak 31 Maret.

Selain itu, produksi kilang minyak Cardon Venezuela sebanyak 310 ribu barel per hari. Jumlah tersebut jauh di bawah kapasitas. Pada Rabu lalu, mereka menghentikan operasi karena kerusakan pada beberapa unitnya. Dengan demikian, hanya tersisa dua kilang yang beroperasi di Venezuela. Hingga berita ini diturunkan, PDVSA maupun Kementerian Perminyakan Venezuela belum memberikan tanggapan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA