Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Seorang Warga Prancis Gugat Boeing

Rabu 22 Mei 2019 07:23 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah

Petugas pencari menelusuri puing armada Ethiopian Airlines di Bishoftu, Debre Zeit, selatan Addis Ababa, Ethiopia, 11 Maret 2019.

Petugas pencari menelusuri puing armada Ethiopian Airlines di Bishoftu, Debre Zeit, selatan Addis Ababa, Ethiopia, 11 Maret 2019.

Foto: AP/Mulugeta Ayene
Belasan keluarga telah mengajukan tuntutan kepada Boeing sejak kecelakaan Lion Air.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Seorang perempuan Prancis mengajukan gugatan kepada Boeing dan meminta ganti rugi sedikitnya 276 juta dolar AS. Gugatan tersebut dilayangkan karena suaminya menjadi korban dalam kecelakaan Ethiopian Airlines, yang melibatkan Boeing 737 Max pada Maret lalu.

Gugatan atas nama Nadege Dubois-Seex telah diajukan di Pengadilan Distrik AS di Chicago. Suaminya, Jonathan Seex adalah warga Swedia dan Kenya, serta merupakan CEO grup perusahaan Tamarind. Pengacara penggugat, A. Nomaan Husain mengatakan pada konferensi pers di Paris kliennya meminta ganti rugi minimal 276 juta dolar AS.

"Kami telah belajar Boeing mengandalkan satu sensor yang sebelumnya telah ditandai di lebih dari 200 laporan kejadian yang diserahkan ke FAA (Administrasi Penerbangan Federal AS)," kata Husain, Rabu (22/5).

Dua juru bicara Boeing di Eropa tidak memberikan komentar. Sementara juru bicara Boeing di Amerika Serikat juga tidak menanggapi permintaan komentar tentang gugatan tersebut.

"Keluarga kami telah kehilangan kesatria yang bersinar dan dunia telah kehilangan seorang wirausahawan yang cemerlang," kata Dubois-Seex, dalam sebuah pernyataan.

Belasan keluarga telah mengajukan tuntutan kepada Boeing sejak kecelakaan Lion Air pada Oktober 2018. Sementara, beberapa tuntutan hukum juga telah diajukan atas kecelakaan Ethiopian Airlines yang jatuh di dekat Addis Ababa.

Kecelakaan penerbangan Ethiopian Airlines 302 pada Maret lalu menewaskan 157 penumpang dan awak. Tragedi ini serupa dengan kecelakaan Lion Air yang jatuh di perairan Karawang, Indonesia pada Oktober lalu dan menewaskan 189 penumpang beserta awak. Kedua maskapai penerbangan ini menggunakan pesawat Boeing 737 Max ketika kecelakaan terjadi.

Boeing mengatakan telah menyelesaikan pembaruan untuk perangkat lunak MCAS 737 MAX. Saat ini Boeing sedang dalam proses mengajukan rencana untuk pelatihan pilot ke FAA.

Belum diketahui kapan pesawat Boeing 737 MAX akan menerima persetujuan FAA untuk kembali terbang. Regulator keselamatan di negara lain mengatakan, mereka secara independen akan menilai perbaikan Boeing sebelum memberikan persetujuan kelaikan terbang.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA